Satu kesalahan umum dalam membangun bisnis yang dilakukan oleh para founder, adalah tidak berinvestasi pada perencanaan dan riset yang tepat.

Banyak founder startup yang berusaha meminimalkan biaya-biaya, ternyata malah membuat startup mereka gagal. Karena begitu memotong anggaran mereka, mereka juga memotong kualitas produk, kehilangan kepercayaan pelanggan, dan kehilangan tim profesional yang berkualitas.

Jika Anda membaca Penyebab Besar Mengapa Perusahaan Gagal, inilah alasan utama mengapa startup gagal :

  • 42% startup gagal karena tidak ada kebutuhan riil untuk produk mereka.
  • 29% gagal karena mereka salah memperkirakan anggaran.
  • 19% gagal karena kalah bersaing atau karena alasan lain.

Tapi tenang, semua ada obatnya…

Bahkan, di saat-saat tersulit, Anda masih bisa meluncurkan produk yang keren, dan menghindari kegagalan, dengan menyelesaikan fase-fase discovery.

Dengan berinvestasi dalam discovery itu, Anda bisa mengurangi risiko-risiko, mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kritikal, menemukan permintaan pasar, menguji konsep Anda, menentukan anggaran Anda, dan memutuskan bagaimana melanjutkan ide Anda.

Pengetahuan yang diperoleh selama fase discovery itu, akan menyelamatkan Anda dari kesalahan dan kegagalan.

Sekarang, kita akan belajar bagaimana memastikan kelangsungan hidup startup Anda.

Kita akan cari tahu apa itu fase discovery proyek, mengapa itu begitu penting, siapa yang terlibat di dalamnya, dan seperti apa bentuknya ?

Mari kita mulai…


Anda sangat meyakini bahwa ide Anda sangat hebat, akan berhasil, dan akan diterima oleh pasar.

Maka, mewujudkan ide briliant Anda, dan mengubahnya menjadi sebuah aplikasi di web atau di mobile, itu sangat “menggoda”.

Apalagi kalau Anda punya modalnya.

Tapi nanti dulu…, melewatkan fase discovery, seringkali menyebabkan kegagalan yang sama, seperti yang dilakukan oleh banyak perusahaan lain.

Ini contohnya…

Startup Paraplou, adalah penyedia produk premium fashion, dan merupakan website e-commerce pertama yang menjembatani fashion global dengan fashion lokal di Indonesia. Namun, mereka harus ditutup karena pasar yang belum terbentuk.

Shopious, startup yang memiliki model bisnis sebagai marketplace fashion customer to customer (C2C), lalu pivot menjadi agregator toko fashion di Instagram. Tapi akhirnya mereka juga harus tutup, karena alasan e-commerce di Indonesia tidak berkompetisi dengan kualitas produk, tapi dengan banyaknya bonus yang memanjakan konsumen, seperti layanan diskon, pembebasan ongkos kirim, hingga perang harga.

Bahkan perusahaan besar seperti Google, juga masuk dalam daftar ini.
Anda ingat Google Glasses ?

Kita bisa menemukan banyak founder startup yang semula sangat bersemangat, terpaksa harus kecewa ketika “aplikasi yang menjanjikan” mereka, gagal mengesankan pengguna.

Namun, mereka yang melakukan riset awal (discovery) pada project-nya, memiliki tingkat keberhasilan yang meningkat secara signifikan.

Apa Itu Fase Discovery ?

Fase discovery, atau riset awal, adalah proses yang harus dilakukan sebelum memulai pengembangan sebuah proyek aplikasi perangkat lunak.

Fokusnya adalah untuk mengidentifikasi audiens target Anda, masalah mereka, dan kebutuhan mereka.

Pada fase discovery itu, Anda menguji ide Anda terhadap pemecahan masalah secara nyata, dan menguji pemenuhan ekspektasi pengguna.

Tujuan utama dari tahap discovery ini adalah untuk menghilangkan keraguan, sekaligus membuktikan asumsi Anda pada aplikasi, dengan satu, atau banyak cara.

Berdasarkan feedback dan data yang dikumpulkan, Anda kemudian bisa menyempurnakan ide Anda, dalam membuat produk yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan pengguna.

Dengan kata lain, fase discovery adalah pendekatan yang berbasis data, untuk memodelkan aplikasi perangkat lunak Anda.

Mengapa Fase Discovery Penting Untuk Anda ?

Fase discovery pada sebuah proyek perangkat lunak, diperlukan untuk menemukan product-market fit, hingga menghemat biaya.

Ini adalah 4 manfaat mengapa fase discovery pada proyek perangkat lunak sangat penting :

1. Untuk membuat produk yang dibutuhkan pasar

Dengan melakukan fase discovery proyek, memungkinkan Anda untuk memvalidasi ide, langsung ke end user, daripada hanya sekedar menggunakan asumsi-asumsi.

Hal itu akan menempatkan Anda di “jalur yang benar”, dalam menentukan audiens target Anda, memodelkan visi dan tujuan bisnis.

Fase discovery proyek, membantu Anda untuk menguji ide, atau melakukan product-market fit, dan menentukan apakah ada potensi untuk membangun “The next big things”.

2. Untuk membuat user experience yang hebat

Tahap discovery juga merupakan pendekatan yang sangat baik untuk menentukan masalah yang akan Anda selesaikan dengan aplikasi.

Dengan “ngobrol” dengan pengguna, Anda bisa mengetahui pain point mereka, dan mengubahnya menjadi fitur yang bernilai guna di aplikasi.

Secara alami, dengan memperhatikan “suara” pengguna, akan memungkinkan Anda untuk membuat produk yang berfokus pada user experience yang tepat dan hebat.

3. Untuk merancang prototipe

Cara terbaik untuk menguji sebuah ide melalui riset terhadap pengguna, adalah dengan membangun sebuah prototype.

Anda bisa menggunakan prototipe produk, sebagai versi sederhana dari produk lengkap Anda, yang bertujuan untuk memvalidasi kegunaan, desain, dan fungsionalitas produk.

Namun, prototipe ini masih jauh dari produk akhir yang Anda perlukan sebagai dasar acuan, untuk menjadi “SESUATU”.

Nah, “SESUATU” itu, adalah informasi yang dikumpulkan selama fase discovery proyek.

Jadi tanpa discovery proyek, akan sulit untuk membangun prototipe yang benar-benar bagus, dan mampu menguji ide Anda.

4. Untuk menentukan secara jelas kemana arah produk

Dalam pengembangan produk, ada yang namanya software requirement spesifications (SRS). Yaitu roadmap bagi aplikasi web atau mobile Anda ke depan.

Dengan kata lain, SRS adalah rencana dari seluruh proses pengembangan, dan juga struktur tim yang terlibat dalam proyek.

SRS akan membantu Anda untuk menjaga agar proses pengembangan tetap align, dan anggota tim proyek mengetahui pekerjaan mereka.

Maka, untuk membuatnya, Anda memerlukan fase discovery dalam sebuah manajemen proyek.

Fase discovery proyek, menyoroti kompleksitas dan fungsionalitas proyek.

Jadi, hal itu akan mendefinisikan upaya-upaya apa yang diperlukan pada setiap tahap: desain, pengembangan, pengujian, dan pada manajemen sebuah proyek.

Dengan arah aplikasi yang jelas, maka pengembangan bisa dilakukan dengan tahapan yang jelas, dan kemungkinan biaya yang lebih rendah.

Apa Yang Akan Terjadi Jika Melewatkan Fase Discovery ?

1. Produk yang tidak dibutuhkan siapapun

9 dari 10 startup gagal, dan yang paling sering dikarenakan tidak ada product-market fit.

Seperti yang saya sebutkan di atas, fokus pertama dari proses discovery produk adalah untuk memvalidasi ide. Dengan kata lain, untuk menemukan product-market fit.

Maka, dengan mempelajari market, menganalisis target audiens, mendefinisikan kebutuhan,.. maka Anda bisa mengurangi tingkat kegagalan secara keseluruhan.

2. Keluar biaya yang tidak perlu

Masalah keuangan adalah salah satu dari 5 alasan tertinggi mengapa startup gagal.

Tetapi, masalahnya di sini bukan tentang kekurangan uang, tetapi menghabiskan uang pada sesuatu yang tidak perlu.

Melewatkan fase discovery, bisa mengarah pada tujuan yang tidak jelas dan hipotesis yang tidak terkontrol, yang itu seringkali menghasilkan lebih banyak biaya (yang sebetulnya tidak perlu dikeluarkan).

3. Lingkup pekerjaan yang tiada akhir

Sebuah produk dengan tanpa tujuan yang terukur, akan berakibat pada pengerjaan yang tidak jelas, dan tidak pernah berakhir.

Fase discovery membantu Anda menetapkan arah dan hasil yang ingin dicapai, sehingga Anda memiliki cakupan yang jelas, serta roadmap produk dengan tenggat waktu tertentu secara jelas.

4. Tenggat waktu yang terlewat

Efek samping dari ruang lingkup yang tidak pernah berakhir, adalah tenggat waktu yang terlewat.

Batasan ruang lingkup proyek yang jelas, sangat penting dalam pengembangan sebuah produk.

Fase discovery adalah waktu yang tepat, ketika Anda menetapkan batasan-batasan itu. Karena jika tidak jelas dan tepat, maka itu akan mengarah ke tenggat waktu pengembangan yang terpaksa diperpanjang, hingga waktu rilis yang tertunda.

3 Pertanyaan Yang Harus Dijawab Untuk Menghindari Kegagalan Startup

Founder startup sering meremehkan arti dan pentingnya riset & analisis pasar, yang itu merupakan komponen penting dari fase discovery proyek.

Seolah-olah proses berbasis data ini malah hanya akan menahan Anda dan tim Anda, dalam membuat keputusan yang nyata, mengambil tindakan, dan membuat kemajuan.

Tapi pada kenyataannya, fase discovery yang terencana dengan baik, dan mempunyai deliverables yang berguna, merupakan “papan luncur” yang dibutuhkan oleh setiap startup ketika diluncurkan.

Fase discovery proyek memberikan jawaban yang bisa diandalkan untuk 3 pertanyaan kritikal :

3 pertanyaan untuk menghindari kegagalan startup

1. Haruskah saya melakukan ini ?

“Startup gagal ketika mereka tidak memecahkan masalah pasar.”

Itu adalah alasan paling umum mengapa bisnis yang masih baru seringkali memudar.

Meluncurkan aplikasi yang dirancang tanpa cela, akan tidak berarti apa-apa jika tidak ada yang mau memakainya. Itu hanya buang-buang waktu, uang, energi, dan menghancurkan impian.

Salah satu tujuan utama fase discovery pada startup, adalah memastikan terjadinya peningkatan permintaan pengguna akan sebuah solusi.

Pada saat yang sama, fase discovery itu akan menunjukkan apakah ada ruang di antara kompetitor, dan kesenjangan dalam kepuasan pengguna, yang bisa diisi oleh aplikasi Anda.

Selama fase discovery, Anda memastikan bahwa startup Anda benar-benar melakukan usaha yang layak dilakukan.

2. Bisakah saya melakukannya dengan lebih baik ?

Kevin Systrom dan Mike Krieger, pendiri Instagram, awalnya terinspirasi oleh ide untuk meluncurkan aplikasi mirip Foursquare.

Butuh beberapa waktu bagi mereka untuk pivot dan memilih aplikasi berbagi foto yang lebih mendatangkan keuntungan.

Ketika Anda ingin meluncurkan aplikasi yang mirip dengan Instagram, atau memiliki ide luar biasa untuk aplikasi media sosial baru, selalu mungkin untuk membuat aplikasi Anda lebih baik.

Saat memulai bisnis, penting untuk mengubah keunikan ide Anda, menjadi aplikasi yang berfungsi baik. Hal itu akan membantu Anda menarik perhatian pengguna pertama Anda, dan juga menarik calon investor.

Fase discovery, akan membantu Anda memprioritaskan mana fitur-fitur penting, memangkas mana yang tidak perlu, dan menemukan cara untuk meningkatkan ide Anda menjadi lebih baik lagi.

Fase discovery, membantu mengubah ide Anda yang keren, menjadi startup yang hebat.

3. Berapa banyak sumber daya yang dibutuhkan ?

Cara lain untuk menanyakan ini adalah, “Berapa biaya untuk membangun aplikasi perangkat lunak ?”, dan “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun sebuah startup dari awal ?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sulit untuk dijawab.

Jika Anda coba googling, mungkin Anda akan menemukan halaman web dengan judul yang menjanjikan, tetapi tidak ada konten yang Anda temukan, yang itu sesuai dengan bisnis Anda.

Membuat perkiraan terperinci tentang sumber daya yang diperlukan untuk meluncurkan startup Anda, memerlukan pemahaman yang jelas tentang ide Anda, pasar Anda, lokasi dan ukuran tim Anda, serta banyak informasi lainnya.

Maka, fase discovery proyek, adalah cara langsung untuk lebih memahami produk Anda. Dan sebagai hasilnya, Anda akan mendapatkan perkiraan yang tepat, tentang apa yang diperlukan untuk meluncurkan produk Anda.

Fase ini akan membantu Anda untuk menentukan, berapa banyak waktu dan uang yang Anda butuhkan untuk mencapai tujuan bisnis Anda, dan juga memenangkan hati investor.

Fase discovery membantu Anda untuk menentukan anggaran, mengoptimalkan biaya, mengembangkan strategi, dan waktu tersingkat untuk masuk ke pasar.

Tim Yang Terlibat Dalam Discovery Proyek

Sebetulnya, dengan mengikuti panduan pada tulisan ini, Anda bisa mengerjakan sendiri fase discovery pada startup Anda, atau mungkin bekerja sama dengan salah satu founder lain. Namun, prosesnya mungkin rumit dan memakan waktu lama.

Soalnya, Anda harus mencurahkan waktu berjam-jam untuk meneliti, menganalisis, dan mendesain. Anda juga harus mempelajari secara spesifik arsitektur MVP, dan memutuskan teknologi mana yang akan digunakan.

Bahkan, jika Anda punya keahlian dalam rekayasa perangkat lunak sekalipun, prosesnya mungkin memakan terlalu banyak waktu dan energi.

Nah, cara lain untuk mengoptimalkan sumber daya dan menghemat waktu Anda, agar Anda bisa mengerjakan tugas bisnis yang penting lainnya, adalah dengan mendelegasikan fase discovery proyek ini kepada sebuah tim dengan berbagai role.

Tim discovery proyek, biasanya terdiri dari para spesialis (role) dengan pengalaman bertahun-tahun, dalam pengembangan perangkat lunak.

Mereka kemungkinan besar akan mampu memberikan hasil yang baik, dalam jangka waktu yang ketat.

Inilah tim yang Anda perlukan dalam fase discovery proyek Anda :

Tim discovery proyek

Product Owner

Product Owner adalah orang yang memiliki ide awal tentang produk tersebut. Bisa jadi ini adalah Anda sendiri.

Sebagai pendiri startup, Anda memiliki visi yang jelas tentang ide startup Anda, dan memiliki asumsi tentang siapa yang membutuhkan produk Anda, serta bagaimana mereka akan menggunakannya.

Selama fase discovery, Anda bisa menjelaskan ide Anda kepada tim discovery Anda, kemudian mengerjakan analisis dan improvement produk secara bersama-sama.

Sebagai product owner, Anda akan terlibat dalam pengembangan produk, tetapi, bagian utama dari analisis dan perencanaan, desain dan pengembangan, akan menjadi tanggung jawab orang lain.

Project Manager

Seorang project manager, bertanggung jawab untuk memastikan komunikasi berjalan baik, dan melakukan perencanaan yang tepat, terkait ruang lingkup pekerjaan.

PM mendokumentasikan ruang lingkup pekerjaan, serta melacak kemajuan fase discovery proyek.

Business Analyst

Seorang business analyst, meneliti bagaimana cara memenuhi kebutuhan yang ada, dengan menerapkan solusi bisnis secara riil.

Mereka mempelajari kebutuhan pengguna potensial, membantu melakukanimprovement produk, serta membuatnya lebih sesuai dengan permintaan.

Desainer UI/UX

Desainer UI/UX, berfokus pada pembuatan interface yang menarik, juga membuat user experience yang mudah digunakan dan tanpa gangguan.

Ia bersama-sama dengan project manager atau business analyst, mempelajari preferensi pengguna, untuk membuat produk Anda semenarik mungkin.

Software Architect

Seorang arsitek perangkat lunak, menganalisis requirement awal, serta merekomendasikan tools dan metodologi, untuk mengembangkan aplikasi yang berkualitas tinggi.

Seorang arsitek perangkat lunak, membuat dan mengembangkan arsitektur & logika produk Anda, dan juga ikut dalam melakukan estimasi jangka waktu.

Software Tester

Penguji perangkat lunak, membuat dan mengembangkan rencana pengujian, yang itu merupakan dasar untuk menguji MVP Anda secara benar.


Ukuran tim Anda bisa jadi berbeda dengan yang saya sebutkan di atas, karena itu sepenuhnya tergantung pada visi Anda, langkah-langkah persiapan yang telah Anda ambil, dan hasil yang Anda harapkan.

Sekarang, mari kita lihat tahapan-tahapan fase discovery proyek.


7 Fase Discovery Proyek

Fase discovery ini terdiri dari tujuh tahap utama, yang harus Anda selesaikan :

1. Jelaskan Tujuan Proyek

Role yang terlibat : seluruh tim discovery proyek

Proses discovery proyek dimulai dengan meeting awal.
Selama meeting tersebut, ceritakan visi Anda ke seluruh tim discovery proyek.

Kemudian secara bersama-sama mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut :

  • Apa masalah terbesar yang mungkin dihadapi calon pengguna ?
  • Bagaimana produk kita dapat mengatasi masalah ini ?
  • Seperti apa tampilan pengguna secara umum ?
  • Apa perbedaan produk ini dengan aplikasi serupa ?
  • Bagaimana kita bisa memonetisasi produk ?
  • Berapa pendapatan yang diharapkan ?

Meeting ini bisa dibagi menjadi beberapa sesi, dan pertanyaan-pertanyaan yang Anda diskusikan, mungkin bisa berbeda dan berkembang, tergantung pada spesifikasi proyek, dan kebutuhan Anda.

Selama tahap pertama fase ini, Anda akan berinteraksi dengan seluruh tim discovery untuk mengembangkan Lean Canvas (LC), atau Business Model Canvas (BMC), yang itu berisi informasi umum tentang produk Anda, value proposition produk Anda, pendapatan yang diharapkan, audiens/segment targetnya, dll.

Lean canvas, memberikan deskripsi awal yang cepat, sederhana, terkait ide bisnis Anda dan tujuannya.

Lean Canvas
Lean Canvas

Output yang dihasilkan pada tahap ini :

Lean Canvas, dokumen yang menjelaskan informasi penting tentang startup Anda.

2. Buat Value Proposition Canvas

Role yang terlibat : product owner, project manager, business analyst

Satu-satunya cara untuk berhasil pada segmen pelanggan yang telah ditentukan, adalah dengan memberi pelanggan potensial Anda itu, desain dan fungsionalitas yang mereka inginkan dan yang mereka butuhkan.

Di sinilah Value Propotition Canvas (VPC) berguna.

VPC merupakan satu alat untuk memahami bagaimana perilaku konsumen / pelanggan Anda.

VPC menghubungkan rencana produk yang ingin Anda luncurkan, dengan kebutuhan nyata pelanggan.

VPC dibangun berdasarkan Lean Canvas atau Business Model Canvas (BMC). Dalam hal ini, VPC memberikan deskripsi yang lebih terperinci dan terstruktur, terkait elemen segmen pelanggan pada LC/BMC Anda.

Pada VPC, Anda menyoroti value yang akan diberikan oleh produk Anda.

Dokumen VPC mencakup dua komponen yang saling berhubungan, profil pelanggan dan value map, yang masing-masing menjelaskan fitur-fitur penting dari user persona dan produk Anda.

Customer jobs, gain (keinginan yang diharapkan pelanggan), dan pain (hal-hal yang tidak disukai pelanggan), masuk dalam profil pelanggan.

Produk dan layanan, gains creator, dan pains reliever, masuk dalam value map.

Value Propotition Canvas
Value Proposition Canvas
Profil pelanggan :
  • Customer job
    Masalah dan kemauan yang diinginkan pelanggan, perspektif konsumen dari segi emosional (preferensi), sosial (reputasi), dan fungsional (kepraktisan). Apa hal-hal yang mungkin ingin diselesaikan pengguna dengan aplikasi Anda
  • Gains
    Manfaat-manfaat yang diharapkan pengguna
  • Pains
    Pengalaman negatif yang mungkin dialami pengguna
Value map :
  • Produk dan layanan
    Fitur-fitur aplikasi yang dapat menghasilkan gain dan menghilangkan pain
  • Gain creator
    Fitur-fitur yang menciptakan value bagi pengguna
  • Pain reliever
    Hal-hal yang mengatasi pain point pengguna

Semakin tepat komponen profil pelanggan tercermin dalam value map, maka semakin besar pula peluang produk Anda akan populer dan diminati.

Output yang dihasilkan pada tahap ini :

  1. Value Propotition Canvas, berupa grafik yang menjelaskan hubungan antara profil pelanggan dan value map.
  2. Visi produk, merupakan deskripsi masalah-masalah yang diharapkan dapat dipecahkan oleh produk Anda, dan bagaimana cara men-deliver-nya

3. Riset Pada Target Pasar

Role yang terlibat : business analyst

Persaingan di luar sangat ketat dan kejam.
Meskipun tampaknya ide Anda itu unik, tapi produk yang telah ada di pasar saat ini, mungkin sudah bisa memenuhi permintaan pengguna, dan tidak menyisakan ruang untuk aplikasi Anda.

Maka, melakukan riset pasar secara komprehensif, adalah langkah selanjutnya dari fase discovery proyek.

Apa gunanya melakukan riset target pasar Anda ?

  • Memungkinkan Anda untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing Anda.
  • Merupakan cara untuk mencari tahu tentang startup serupa yang gagal (atau hampir gagal) dan menghindari kesalahan mereka.
  • Menjadi cara langsung untuk mengungkap potensi risiko-risiko.
  • Merupakan langkah penting yang perlu Anda ambil untuk mulai raise funding.

Bagaimana Anda bisa melakukan tahapan riset target pasar dengan benar ?

Di Vascomm, kami melakukannya dengan mengikuti empat langkah dasar berikut :

  1. Melakukan identifikasi bisnis serupa.
  2. Melakukan analisis terhadap produk yang telah ada, menyeelidiki umpan balik dari pengguna, dan bahkan kami mencoba sendiri.
  3. Menemukan masalah yang ada, dan memutuskan bagaimana produk dapat mengatasinya.
  4. Melakukan analisis SWOT untuk mengungkap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
SWOT

Riset ini, bisa saja berubah menjadi proses yang memakan waktu, jika Anda mencoba menanganinya sendiri. Namun, dengan tim yang berpengalaman, Anda bisa memotong waktu yang perlu dialokasikan, dan mendapatkan output hasil yang berharga dari riset ini.

Output yang dihasilkan pada tahap ini :

  1. Dokumen SWOT, menghasilkan kerangka kerja untuk menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman startup Anda.
  2. Assesment risiko-risiko dan rencana mitigasi, menghasilkan tabel risiko-risiko yang mungkin dihadapi proyek Anda, dan cara meminimalkannya.

4. Putuskan Teknis Implementasi Dan Bangun Proof Of Concept (POC)

Role yang terlibat : project manager, software architect, software tester

Tahap ini sangat penting untuk mengidentifikasi potensi-potensi kemacetan secara teknis, dan juga menemukan bagaimana hal itu bisa mempengaruhi keseluruhan proyek.

Pada tahap ini juga, Anda bisa menguji visi produk, serta memastikan bahwa secara teknis layak untuk diterapkan.

Selama tahap ini, tim discovery memprioritaskan fitur -fitur penting, dan membuat prototipe teknis sederhana, untuk memastikan ide Anda tercermin dalam solusi perangkat lunak Anda.

Implementasi teknis dan tahap pembuktian konsep (POC) bersifat opsional, karena tujuan utamanya adalah untuk membuktikan bahwa Anda berada di jalur yang benar, dan untuk memastikan apakah mungkin untuk membangun fitur-fitur produk tertentu, dengan tool yang telah ditentukan.

Output yang dihasilkan pada tahap ini :

  1. Arsitektur produk, yaitu deskripsi struktur aplikasi Anda, termasuk ketentuan-ketentuan dan teknik yang digunakan untuk membangunnya
  2. Rencana pengembangan, yaitu rencana langkah demi langkah untuk mengimplementasikan semua fitur, termasuk deskripsi layanan, dan tool yang diperlukan
  3. Rencana pengujian, merupakan actions list dan tool yang diperlukan untuk fungsionalitas yang tepat dan pengujian interface.

5. Kembangkan Prototype Yang Interaktif

Role yang terlibat : business analyst, UI/UX designer

Menjadi tugas seorang business analyst dan desainer UI/UX untuk menghidupkan prototipe aplikasi yang interaktif, dan bisa di-klik.

Prototipe ini mungkin berbeda dari versi final aplikasi, tetapi harus bisa menampilkan semua screen dan memodelkan seluruh user journey. Ini bisa juga menjadi MVP awal Anda.

Menguji prototipe, membantu Anda dalam menguji user experience (UX), dan memastikan desainnya intuitif, dan ramah bagi pengguna.

Prototipe yang interaktif juga mengejar tujuan penting lainnya, yaitu mengumpulkan umpan balik pengguna, sehingga Anda bisa mengambil tindakan untuk improve produk, atau melakukan pivot jika diperlukan.

Untuk menguji ide Anda secara lebih menyeluruh, tim Anda bisa mengirimkan beberapa prototipe, dan membandingkan umpan balik dari pengguna yang telah mencoba semuanya.

Output yang dihasilkan pada tahap ini :

  1. Wireframe, yaitu sebuah blueprint dari screen aplikasi Anda
  2. Prototipe, model yang interaktif dari aplikasi Anda
  3. Design guideline, yaitu kumpulan aturan-aturan desain untuk produk Anda

6. Buat Dokumentasi

Role yang terlibat : product owner, project manager, business analyst

Memasuki garis akhir fase discovery, tim mengerjakan berbagai tugas dan dokumentasi termasuk design plan dan user story, arsitektur dan logika aplikasi, dan management plan.

Daftar dokumen yang tepat, tergantung pada kebutuhan Anda, kebutuhan proyek, dan tujuan Anda.

Output yang dihasilkan pada tahap ini :

  1. Dokumen product requirement, yaitu deskripsi terperinci tentang bagaimana produk harus bekerja dan terlihat
  2. Roadmap produk, yang merupakan peta pertumbuhan produk
  3. Pendekatan product growth, hal-hal teknis yang diperlukan untuk mendorong akuisisi pengguna dan kesuksesan produk

7. Perkirakan Waktu Dan Biaya Untuk Pengembangan

Role yang terlibat : product owner, project manager, business analyst

Ketika Anda menjelaskan ide Anda untuk pertama kalinya di meeting awal, maka yang bisa Anda dapatkan hanyalah perkiraan kasar.

Tim Anda mungkin telah memberi Anda perkiraan waktu, dan jawaban tentang biaya aplikasi, secara kasar.

Tetapi pada awal fase discovery proyek, tim Anda tidak memiliki semua detail tentang ide Anda, dan mereka tidak sepenuhnya memahami tujuan dan potensinya. Jadinya, mereka tidak bisa memberi Anda perkiraan yang pasti.

Nah sekarang, dengan visi yang sudah jelas tentang konsep dan tujuan Anda, value produk Anda, dan setelah melakukan riset mendalam, serta telah mendapatkan perbandingan menyeluruh antara ide Anda dengan kenyataan yang ada di pasar, maka tim Anda bisa memberi Anda perkiraan proyek yang lebih tepat dan transparan.

Mereka juga bisa memberi Anda action plan yang disiapkan dengan baik, sehingga Anda tahu persis apa yang perlu Anda lakukan, untuk bisa berhasil di segmen target.

Output yang dihasilkan pada tahap ini :

  1. Kesepakatan proyek, dokumen yang berisi ruang lingkup pekerjaan dan peserta yang terlibat dalam proyek
  2. Daftar rincian fitur, tabel yang menjelaskan fitur-fitur produk penting, dan waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya
  3. Perkiraan biaya, tabel yang menunjukkan anggaran yang Anda butuhkan untuk setiap tahap pertumbuhan produk Anda

Durasi Waktu Dan Output Hasil Fase Discovery

Durasi waktu fase discovery proyek sangat bervariasi.

Product owner bisa datang ke tim pengembangan dengan daftar yang sudah pasti terkait fitur-fitur yang harus ada, dan mockup sederhana.
Atau product owner bisa datang ke tim hanya dengan presentasi dasar ide mereka.

Maka, tergantung pada tingkat persiapan tersebut, fase discovery proyek mungkin memakan waktu satu hingga empat minggu, atau bahkan lebih lama.

Apa yang akan Anda dapatkan pada akhir discovery proyek ?

Sekali lagi, itu tergantung pada kebutuhan Anda dan hal-hal yang menjadi persyaratan, karena itu akan memengaruhi daftar output hasil (deliverables) dari fase discovery proyek.

Tetapi, beberapa output hasil ini adalah yang paling umum :

  1. Lean Canvas / Business Model Canvas
  2. Value Proposition Canvas
  3. Analisis SWOT
  4. Wireframes
  5. Prototipe yang interaktif
  6. Design guideline
  7. Dokumen product requirement
  8. Arsitektur produk
  9. Rincian fitur-fitur yang terstruktur
  10. Development plan
  11. Test plan
  12. Assesment risiko dan rencana mitigasi
  13. Roadmap produk
  14. Visi produk
  15. Pendekatan product growth
  16. Kesepakatan proyek
  17. Perkiraan biaya

Itulah daftar output hasil (deliverables) yang bisa membantu Anda merencanakan pengembangan sebuah produk,


Setelah fase discovery proyek yang menyeluruh, Anda akan memiliki visi yang jelas tentang spesifikasi, kekuatan, dan value produk Anda, yang itu pada akhirnya akan membuat startup Anda berada di jalur tepat menuju kesuksesan.

Nah, Anda bisa mulai dengan membuat langkah-langkah discovery sendiri, atau mendelegasikan hal itu ke penyedia layanan pengembangan perangkat lunak yang Anda tahu, atau…, jika Anda mau yang sudah pasti dan berpengalaman, Anda bisa mengembangkan produk Anda dengan tim kami.

Semoga bermanfaat, terima kasih telah membaca, dan silakan berikan komentar.

Konten iklan ini dipilihkan oleh Google sesuai kebiasaan Anda akses informasi
0 Shares:
You May Also Like
Cara Mudah Membuat Product Roadmap
Read More

Cara Mudah Membuat Product Roadmap

Jika saat ini kamu sedang bekerja membangun startup, bayangkan saat ini kamu berada di belantara jutaan perusahaan di dunia, dengan milyaran produk dan layanan. Agar punyamu terlihat menonjol dan berkilau, salah satu dari sekian banyak yang harus kamu pelajari dan kerjakan adalah membuat peta jalan produk ( product roadmap). Ini panduan lengkapnya…
Read More
Cara Perusahaan Kelas Dunia Menerjemahkan Visi Dan Misi Untuk Sukses
Read More

Cara Perusahaan Kelas Dunia Menerjemahkan Visi Dan Misi Untuk Sukses

Perusahaan/organisasi yang mendefinisikan misi sebagai alasan keberadaan, akan meletakkan misi dulu sebelum visi. Sedangkan mereka yang mendefinisikan misi sebagai cara mencapai visi, akan meletakkan misi setelah visi. Bagaimana cara perusahaan kelas dunia menerjemahkan Visi Dan Misi untuk meraih kesuksesan mereka? Apakah perusahaan Anda sekarang itu melaju karena digerakkan oleh visi dan misi?
Read More