Jangan Sibuk Tahu Semuanya. Tahu yang Tepat Justru Lebih Penting

Kita sering merasa harus tahu semuanya untuk bisa berhasil.

Belajar AI. Belajar investasi. Belajar marketing. Belajar leadership. Ikut semua webinar. Baca semua buku. Mengikuti semua tren.

Akhirnya tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak benar-benar hebat di satu hal pun.

Padahal kita tidak perlu menjadi ensiklopedia berjalan untuk sukses.

Ada orang yang kelihatannya pintar karena tahu banyak hal, tetapi belum tentu maju. Sebab semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang kita pikirkan. Semakin banyak yang kita pikirkan, semakin sulit menentukan mana yang sebenarnya penting.

Otak akhirnya seperti browser dengan 47 tab terbuka.

Semuanya penting. Semuanya belum selesai.
Akhirnya nge-hang.

Begitu juga manusia.

Lihat pemain sepak bola. Dia tidak harus bisa menjadi kiper, bek, gelandang, sekaligus striker. Dia cukup menemukan posisi terbaiknya, lalu berlatih sampai menjadi sangat sulit dikalahkan di posisi itu.

Begitu juga hidup.

Kalau kekuatan kita ada di menjual, pertajam kemampuan menjual.
Kalau kita kuat membangun hubungan, kembangkan itu.
Kalau kita kuat berpikir dan memecahkan masalah, jadikan itu senjata.

Kita tidak perlu membuat semua bagian diri kita tajam.

Seperti pisau. Yang perlu tajam adalah bagian yang memang digunakan untuk memotong.

Masalahnya, kita sering merasa harus mempelajari sesuatu hanya karena semua orang sedang membicarakannya.

Ada teknologi baru, kita merasa harus tahu.
Ada istilah bisnis baru, kita merasa harus mengerti.
Ada tren baru, kita merasa ketinggalan kalau tidak ikut.

Padahal tidak semua pengetahuan berguna untuk kita.

Ada pengetahuan yang membuat kita tumbuh. Ada yang berguna nanti. Ada juga yang hanya membuat kepala penuh.

Just in time.

Bukan berarti kita malas belajar. Justru kita belajar dengan lebih sadar: belajar ketika pengetahuan itu bisa langsung digunakan.

Ketika sedang membangun bisnis, pelajari hal yang membantu bisnis tumbuh.
Ketika sedang membangun tim, pelajari leadership.
Ketika sedang menghadapi masalah teknologi, pelajari teknologi yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

Jangan sampai kita sibuk belajar cara membuat kapal selam, sementara perahu yang sedang kita naiki bocor.

Di zaman internet dan AI, kita juga tidak harus menyimpan semua jawaban di kepala.

Kita perlu tahu bagaimana menemukan jawaban ketika dibutuhkan.
Kita tidak harus menjadi perpustakaan.
Kita hanya perlu tahu buku mana yang harus dibuka.

Orang sukses biasanya memiliki kesadaran sederhana:
Saya tidak perlu tahu semuanya. Saya perlu tahu apa yang saya perlukan sekarang, apa yang mungkin saya perlukan besok, dan apa yang belum perlu saya pikirkan hari ini.

Itulah sebabnya kemampuan mengatakan “saya tidak tahu” bukan kelemahan.

Yang penting kita tahu bagaimana mendapatkan jawabannya.

Jadi jangan terlalu sibuk bertanya, “Apa yang belum saya tahu?”
Sesekali tanyakan, “Dari semua yang saya tahu, mana yang paling layak saya jadikan keunggulan?”

Karena sukses bukan tentang mengetahui semuanya.

Sukses adalah tahu apa yang penting, kapan harus mempelajarinya, lalu menjadi sangat hebat di sana.

Just in time.

Bukan tahu semuanya.
Tetapi tahu apa yang perlu diketahui, pada saat yang tepat.



Konten iklan ini dipilihkan oleh Google sesuai kebiasaan Anda akses informasi
0 Shares:
You May Also Like

Kisah Apple-Microsoft: Bersaing Tidak Harus Dengan Saling Menjatuhkan

Pada awal tahun 1990-an, Apple dan Microsoft bersaing untuk mendominasi pasar komputer pribadi. Namun, pada tahun 1997, Apple kehilangan dominasinya, kehabisan uang, dan terancam bangkrut. Mereka kemudian meminta bantuan saingan terbesarnya, Microsoft. Pesaing besarnya itu setuju untuk menginvestasikan US $150 juta di Apple dalam bentuk saham preferen dengan beberapa syarat. Investasi dari Microsoft memberikan Apple waktu untuk mengembangkan produk baru dan memperkuat bisnisnya. Tahun itu juga momen kembalinya Steve Jobs sebagai CEO yang kembali membawa kesuksesan bari perusahaan. Bagaimana kisahnya?
Read More

Apa Itu Fail Fast?

Keberhasilan membutuhkan banyak kesabaran dan ketekunan. Itu mengharuskan Anda untuk bereksperimen terus menerus tanpa rasa takut. Anda perlu gagal lebih cepat, belajar lebih cepat, memperbaikinya lebih cepat, agar sukses juga lebih cepat. Konsep besarnya adalah iterasi build-measure-learn. Semakin cepat kita melakukan satu siklus iterasi, semakin cepat pula kita berhasil memberi solusi yang dibutuhkan pemakai.
Read More