Ada satu kebiasaan yang saya semakin sadari nilainya setelah bertahun-tahun bekerja, memimpin perusahaan, belajar teknologi, belajar bisnis, belajar agama, dan menjadi orang tua:

MEMBACA.

Bukan karena membaca membuat kita terlihat pintar, atau karena orang yang punya banyak buku otomatis lebih berilmu. Tetapi karena saya semakin merasakan satu hal:

Cara kita membaca sangat memengaruhi cara kita berpikir.

Dan buat saya, ini menjadi semakin penting.

Saya harus membaca proposal.
Membaca kontrak.
Membaca laporan.
Membaca business case.
Membaca teknologi baru.
Membaca riset.
Membaca perubahan industri.
Membaca orang.

Bahkan di era AI ini, saya harus membaca jauh lebih banyak daripada sebelumnya.

Kita Tidak Kekurangan Bacaan. Kita Kekurangan Perhatian

Beberapa tahun terakhir kita sering mendengar kekhawatiran bahwa membaca “sedang mati”.

Anak-anak semakin jarang membaca buku.
Remaja semakin banyak menghabiskan waktu di smartphone.
Orang dewasa lebih banyak scrolling.
Dan perhatian manusia semakin terfragmentasi.

Saya bisa melihat gejalanya sendiri.

Sebagai orang tua, saya melihat bagaimana sebuah smartphone bisa menjadi benda yang sangat sulit dikalahkan oleh sebuah buku.

Buku meminta kita duduk.
Smartphone menawarkan sesuatu yang baru setiap beberapa detik.

Buku berkata, “Ikuti saya.”
Algoritma berkata, “Lihat ini. Ada yang lebih menarik.”

Buku meminta konsentrasi.
Social media memanen perhatian yang terpecah-pecah.

Dan kita hidup di tengah perlombaan memperebutkan perhatian itu.

Masalah Indonesia Bukan Sekadar Jarang Membaca Buku

Kalau kita bicara Indonesia, saya kira kita perlu berhati-hati.

Jangan hanya bertanya, “Berapa buku yang dibaca orang Indonesia?”
Karena masalah kita sebenarnya jauh lebih mendasar, seberapa baik kita memahami apa yang kita baca?

Di PISA 2022, hanya sekitar 25% siswa Indonesia usia 15 tahun yang mencapai Level 2 atau lebih dalam reading.

OECD menjelaskan bahwa Level 2 adalah tingkat minimum di mana siswa setidaknya mampu menemukan gagasan utama dari teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta melakukan refleksi terhadap tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan.

Sebagai perbandingan, rata-rata OECD mencapai 74%, Malaysia 42%, sedangkan Singapura 89%.

Lebih menarik lagi, pada Level 5 atau lebih tinggi—tingkat yang menuntut kemampuan memahami teks panjang, menangani konsep abstrak atau counterintuitive, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk implisit—hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapainya.

Rata-rata OECD adalah 7%, sementara Singapura mencapai 23%.

Kalau kita lihat skor rata-ratanya, Indonesia berada di 359, Malaysia 388, Thailand 379, Vietnam 462, dan Singapura 543.

Yang Perlu Kita Khawatirkan Bukan Jumlah Buku, tetapi Kemampuan Memahami

Angka-angka ini bukan sekadar soal sekolah.

Bagi saya, ini menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar: kemampuan manusia untuk memahami dunia.

Karena seorang anak yang kesulitan memahami teks panjang kelak akan kesulitan memahami kontrak.
Kesulitan memahami laporan.
Kesulitan membedakan opini dengan fakta.
Kesulitan memahami instruksi.
Kesulitan mengikuti argumentasi.

Dan akhirnya, bisa sangat mudah dipengaruhi oleh potongan informasi yang muncul di layar.

Ini bukan hanya masalah pendidikan.
Ini masalah kualitas manusia dan kualitas keputusan.

Kita Tidak Berhenti Membaca. Kita Hanya Membaca dengan Cara yang Berbeda

Data Perpustakaan Nasional sendiri tidak mendefinisikan Tingkat Kegemaran Membaca hanya sebagai membaca buku. Definisinya mencakup perilaku atau kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan informasi dari berbagai bentuk media secara mandiri.

Saya suka pendekatan ini.

Karena memang dunia sudah berubah.

Hari ini orang membaca melalui buku.
Kindle.
Website.
PDF.
Newsletter.
WhatsApp.
LinkedIn.
News app.
Social media.
Dan berbagai bentuk digital lainnya.

Jadi, jangan buru-buru mengatakan, “Anak sekarang tidak membaca.”

Mungkin mereka membaca.

Tetapi pertanyaannya, apa yang mereka baca?

Dan yang lebih penting, bagaimana mereka membacanya?


Dulu saya bisa membaca buku dari halaman pertama sampai terakhir.
Sekarang saya bisa membuka puluhan tab.

Satu tentang AI.
Satu tentang bisnis.
Satu tentang teknologi.
Satu research paper.
Satu artikel tentang geopolitik.
Satu dokumentasi produk.
Satu newsletter.
Satu laporan industri.

Kemudian saya lompat dari satu ke yang lain.

Saya skim.
Saya highlight.
Saya save.
Saya buka lagi.
Saya cari keyword.
Saya bandingkan.

Saya kadang membaca satu artikel sampai selesai.
Kadang hanya membaca bagian tertentu.

Apakah itu membaca?
Tentu.

Tetapi mungkin bukan jenis membaca yang sama dengan ketika saya duduk selama satu jam dan tenggelam dalam sebuah buku. Dan di sinilah, saya kira, kita perlu membongkar kembali definisi reading.

Bahkan Cara Manusia Membaca Selalu Berubah

Kita sering membayangkan membaca sebagai aktivitas seseorang yang duduk sendirian di kursi.

Buku di tangan.
Sunyi. Tidak ada gangguan.
Membaca halaman demi halaman.
Seolah-olah itulah bentuk membaca yang paling “asli”.

Padahal sejarah mengatakan sebaliknya.

Buku Pernah Terlalu Berharga untuk Dibawa Pulang

Pada zaman kuno dan abad pertengahan, reading aloud justru merupakan praktik yang umum.

Orang membaca untuk orang lain.
Orang mendengarkan.
Orang berdiskusi.

Buku juga pernah menjadi barang yang begitu mahal sampai harus dirantai di perpustakaan agar tidak dibawa pergi.

Reading Clubs: Membaca Tidak Selalu Aktivitas Soliter

Pada abad ke-18, muncul berbagai reading clubs.
Orang membayar langganan untuk mendapatkan akses ke buku dan majalah.
Mereka membaca. Tetapi mereka juga berbicara.
Berdebat. Bertukar pikiran.

Jadi membaca tidak selalu merupakan aktivitas soliter.
Tidak selalu diam.
Tidak selalu dari halaman pertama sampai terakhir.

Bahkan bentuk modern dari novel yang kita kenal sekarang baru berkembang sekitar abad ke-18.

Dengan kata lain:
“Cara kita membaca sekarang” bukan sesuatu yang sakral.

Ia hanya salah satu fase dalam sejarah panjang manusia.

Tidak Semua Buku Harus Dibaca Sampai Habis

Ada pendapat Francis Bacon yang saya suka.

Ia membagi buku menjadi tiga jenis.

Ada yang cukup “tasted.”
Ada yang perlu “swallowed.”
Dan ada sedikit yang harus “chewed and digested.”

Saya rasa ini sangat relevan dengan cara kita belajar hari ini.

Tidak semua buku harus dibaca dengan intensitas yang sama.

Ada buku yang cukup kita skim.
Ada yang kita baca bagian tertentu.
Ada yang kita baca cepat untuk mendapatkan framework-nya.
Dan ada buku yang memang harus kita kunyah.

Pelan-pelan.
Dengan catatan.
Dengan highlight.
Dengan pertanyaan.
Dengan jeda.

Bahkan kadang dengan membaca ulang.

Seperti makanan.
Tidak semua makanan kita makan dengan cara yang sama.

Begitu juga buku.

Audiobook Itu Membaca atau Bukan?

Saya pernah mendengar perdebatan kalau audiobook, itu bukan membaca.

Saya tidak terlalu setuju dengan cara berpikir seperti itu.

Manusia sudah mendengarkan cerita jauh sebelum manusia mengenal Kindle.
Jauh sebelum ada paperback atau perpustakaan.

Cerita dibacakan. Anak-anak mendengarkan orang tua.

Orang dewasa berkumpul.
Seseorang bercerita. Yang lain mendengarkan.

Jadi, audiobook menurut saya bukan cheating.
Ia adalah medium.

Yang perlu kita lihat adalah apa yang terjadi pada pikiran kita ketika mengonsumsi cerita atau pengetahuan itu.

Apakah kita memahami?
Apakah kita mengingat?
Apakah kita berpikir?
Apakah kita mendapatkan perspektif baru?

Kalau iya, saya tidak terlalu peduli apakah informasi itu masuk melalui mata atau telinga.

Masalahnya Bukan Smartphone. Masalahnya adalah Fragmentasi Perhatian

Saya tidak ingin ikut-ikutan menyalahkan teknologi.
Sebagai founder teknologi, tentu lucu kalau saya menyalahkan smartphone.

Saya justru hidup dari teknologi.

Saya membangun software.
Saya belajar AI.
Saya menggunakan banyak LLM tools.
Saya membaca hampir semuanya secara digital.

Teknologi Bukan Musuh. Perhatian Kita yang Sedang Diperebutkan

Teknologi bukan musuh.

Tetapi ada sesuatu yang perlu kita pahami:
Teknologi mengubah cara perhatian kita bekerja.
Dan algoritma punya satu tujuan: keep you engaged.

Scroll.
Swipe.
Click.
Next.
Next.
Next.

Tidak ada akhir.

Buku berbeda.
Buku memiliki akhir.

Ia memaksa kita untuk tinggal.
Dan bagi saya, kemampuan untuk tinggal inilah yang semakin mahal.

Berpikir Dalam Membutuhkan Kemampuan untuk Bertahan

Ada perbedaan besar antara membaca sebuah headline dengan membaca sebuah argumentasi.

Headline memberi kita kesimpulan. Buku sering kali membawa kita melalui perjalanan menuju kesimpulan.

Dan perjalanan itu penting.

Misalnya, saya membaca sebuah buku tentang leadership.

Penulis mengatakan A. Kemudian penulis menjelaskan mengapa A.
Lalu memberikan counterargument. Kemudian memberikan contoh.
Lalu mengubah sedikit posisinya. Lalu sampai pada kesimpulan B.

Headline Memberi Kesimpulan. Buku Membawa Kita Menjalani Prosesnya

Kalau saya hanya membaca quote di Instagram:
“Good leaders listen.”

Saya mendapatkan kalimatnya.
Tetapi saya kehilangan cara berpikir yang menghasilkan kalimat itu.

Ini yang menurut saya berbahaya.

Kita hidup di zaman ketika hampir semua gagasan bisa dikompres menjadi:
satu quote.

Satu carousel.
Satu video 30 detik.
Satu tweet.
Satu headline.

Masalahnya, kompresi informasi tidak selalu sama dengan pemahaman.

Sebagai Founder, Saya Tidak Bisa Berhenti Membaca

Semakin besar tanggung jawab, semakin mahal harga dari keputusan yang buruk.

Ketika menjadi founder, kita tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman.

Dunia berubah terlalu cepat.
Teknologi berubah.
Customer berubah.
Kompetitor berubah.
AI berubah.
Regulasi berubah.

Bahkan business model yang tahun lalu masuk akal bisa menjadi tidak relevan tahun ini.

Karena itu saya harus terus belajar.
Dan belajar berarti membaca. Tetapi bukan hanya membaca informasi.

Saya harus membaca konteks.
Membaca pola.
Membaca angka.
Membaca orang.
Membaca pasar.
Membaca perubahan.

Dan kadang-kadang, membaca kegagalan.
Semua itu membutuhkan kemampuan yang sama:
attention.

Sebagai Orang Tua, Saya Sadar Anak Belajar dari Cara Kita Memakai Perhatian

Saya semakin percaya bahwa anak tidak akan menjadi pembaca karena kita mengatakan, “Nak, membaca itu penting.”

Anak Tidak Belajar dari Nasihat Kita. Mereka Belajar dari Contoh Kita.

Anak belajar membaca bukan hanya dari nasihat.
Mereka melihat apa yang dilakukan orang tuanya.

Kalau anak melihat orang tua setiap malam membaca buku, ada pesan yang lebih kuat daripada seribu ceramah. Kalau anak melihat orang tua setiap kali ada waktu kosong langsung membuka TikTok, Instagram, atau WhatsApp, anak juga belajar sesuatu.

Bukan dari kata-kata.
Dari contoh.

Saya rasa ini salah satu bentuk leadership by example yang paling sederhana.

Kita ingin anak punya deep attention.
Tetapi kita sendiri memberikan contoh fragmented attention.

Kita ingin anak membaca buku.
Tetapi kita sendiri hanya membaca headline.

Kita ingin anak berpikir kritis.
Tetapi kita sendiri langsung memforward berita yang belum kita baca sampai selesai.

Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan.

Saya Tidak Takut Reading Mati. Saya Takut Deep Reading Mati

Saya justru lebih takut pada kematian kemampuan untuk membaca secara mendalam.

Karena kita akan selalu membaca. Bahkan mungkin semakin banyak.

Yang berubah adalah bentuknya. Yang harus kita jaga adalah kualitasnya.

Menurut saya, ada tiga ciri sederhana.

1. Sustained focus

Kita mampu memberikan perhatian yang cukup lama pada satu teks.

Tidak setiap dua menit berpindah.
Tidak terus-menerus mengecek notifikasi.
Tidak selalu mencari stimulus baru.

2. Linear engagement

Kita mengikuti sebuah gagasan secara utuh.

A ke B.
B ke C.

Kita memahami bagaimana argumen dibangun.
Bukan hanya mengambil potongan yang cocok dengan opini kita.

3. Challenging or absorbing material

Yang kita baca cukup menantang atau cukup menyerap perhatian kita.

Ada sesuatu yang membuat kita berpikir.
Mungkin bahkan membuat kita tidak nyaman.
Membuat kita mengubah pendapat.
Membuat kita berkata, “Selama ini saya salah melihatnya.”

Bagi saya, di situlah membaca benar-benar terjadi.

Kita Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Informasi. Kita Membutuhkan Lebih Banyak Perhatian

Ini mungkin terdengar paradoks dari seseorang yang suka membaca.
Tetapi saya tidak yakin masalah kita adalah kekurangan buku.

Buku sudah terlalu banyak.
Artikel terlalu banyak.
Podcast terlalu banyak.
Video terlalu banyak.
Newsletter terlalu banyak.

AI sekarang bahkan bisa membuat ringkasan dari semuanya.

Masalah kita adalah:
terlalu sedikit perhatian yang benar-benar diberikan kepada sesuatu.

Kita hidup dalam ekonomi perhatian. Dan perhatian adalah aset.

Kalau perhatian kita terus dijual oleh algoritma, jangan heran kalau kemampuan kita untuk berpikir dalam ikut tergerus.

Karena berpikir dalam membutuhkan ruang.
Membutuhkan waktu.
Membutuhkan kesunyian.
Dan kadang membutuhkan kebosanan.

Jadi, Apa yang Harus Kita lakukan?

Saya tidak akan mengatakan, “Matikan smartphone dan baca buku dua jam sehari.”

Terlalu sederhana.
Saya sendiri tidak hidup seperti itu.

Saya membaca buku fisik.
Saya membaca Kindle.
Saya membaca artikel.
Saya membaca dokumen.
Saya mendengarkan audiobook.
Saya menggunakan AI untuk membantu menemukan, membandingkan, dan memahami informasi.

Tetapi saya mencoba menjaga satu kebiasaan:
Sesekali, saya membaca sesuatu tanpa berpindah ke mana-mana.

Satu buku.
Satu artikel.
Satu paper.
Satu gagasan.

Dan saya biarkan pikiran saya tinggal di sana cukup lama.
Karena mungkin itulah kemampuan yang paling perlu kita latih kembali.

Di Era AI, Kemampuan Membaca Justru Semakin Penting

Anak-anak kita tidak kekurangan informasi. Mereka kekurangan kemampuan untuk tinggal bersama informasi.

Generasi sekarang tidak membutuhkan lebih banyak informasi.
Mereka membutuhkan kemampuan untuk memilah.

Memahami.
Menghubungkan.
Mempertanyakan.
Mencerna.

Dan akhirnya mengambil keputusan.

Itulah mengapa saya mulai melihat membaca bukan sebagai aktivitas praktis.
Bukan sekadar hobi, atau sekadar cara mengisi waktu.

Membaca adalah latihan berpikir.

Dan mungkin, di zaman AI, nilainya justru semakin besar. Karena AI bisa memberi kita jawaban dalam hitungan detik.

Tetapi kalau kita tidak mampu membaca dengan baik, kita juga tidak akan mampu menilai apakah jawaban itu masuk akal.

AI bisa membuat ringkasan.
Tetapi kita tetap perlu membaca sumbernya.

AI bisa membuat argumentasi.
Tetapi kita harus bisa melihat apakah argumentasinya cacat.

AI bisa menghasilkan 100 halaman.
Tetapi kita harus tahu mana yang penting.

Dengan kata lain:
Semakin pintar mesin, semakin penting manusia memiliki kemampuan membaca dan berpikir.

Reading Is Not Dead. Deep Reading Is Becoming Rare

Mungkin yang sedang mati adalah ilusi bahwa membaca harus selalu berarti:
duduk sendiri, memegang buku, diam, dan membaca dari halaman pertama sampai terakhir.

Tidak.

Manusia selalu membaca dengan berbagai cara.

Yang perlu kita jaga bukan bentuknya.
Yang perlu kita jaga adalah kedalaman engagement-nya.

Karena pada akhirnya, saya kira kita tidak membaca supaya bisa mengatakan, “Saya sudah membaca 30 buku tahun ini.”

Kita Membaca Bukan untuk Menjadi Lebih Pintar, tetapi untuk Menjadi Sedikit Berbeda

Kita membaca supaya setelah membaca, kita menjadi manusia yang sedikit berbeda.

Sedikit lebih tahu.
Sedikit lebih kritis.
Sedikit lebih sabar.
Sedikit lebih mampu memahami orang lain.
Sedikit lebih mampu melihat kompleksitas.

Dan mungkin yang paling penting:
sedikit lebih sulit dibohongi.

Karena orang yang mampu membaca dengan baik tidak mudah puas dengan headline.
Ia mencari konteks.
Ia bertanya, “Apa yang sebenarnya dikatakan?”
Lalu, “Apa buktinya?”
Lalu, “Apa yang tidak dikatakan?”

Dan akhirnya, “Apakah saya benar-benar memahami ini?”

Bagi saya, itulah esensi membaca.

Bukan seberapa banyak kata yang masuk ke kepala.
Tetapi seberapa dalam sebuah gagasan berhasil mengubah cara kita berpikir.

Jadi kalau poster lama itu masih ditempel di dinding hari ini, saya tetap akan mengatakan:
READ.

Tetapi mungkin sekarang pesannya perlu ditambah satu kata:
READ DEEPLY.

Baca.

Jangan sekadar scroll.
Jangan sekadar skim.
Jangan sekadar collect information.

Baca sampai sebuah gagasan punya kesempatan untuk mengubah Anda.

Jika Anda masih membaca sampai sini, ada dua kemungkinan: langsung loncat atau membaca dengan dalam.

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.



Konten iklan ini dipilihkan oleh Google sesuai kebiasaan Anda akses informasi
0 Shares:
You May Also Like
Berpikir Ala Jenius Dengan First Principle Thinking
Read More

Berpikir Ala Jenius Dengan First Principle Thinking

Cara berpikir para jenius di dunia memiliki satu kesamaan, yaitu mereka banyak berpikir tentang cara mereka berpikir. Elon Musk dan juga beberapa entrepreneur hebat lainnya menggunakan kerangka kerja yang disebut dengan First Principle untuk menyusun pemikiran mereka. Sebuah kerangka cara berpikir (penalaran), dengan cara menggali suatu hal sampai ke esensi dasarnya, sehingga hal itu tidak lagi diselimuti oleh asumsi-asumsi lain, dan tidak bisa diurai lebih dalam lagi. Kemudian dari esensi dasar itu, dibangun sebuah pemikiran sendiri. Bagaimana Anda juga bisa melakukannya ?
Read More
Rahasia Sukses Dengan Investasi Waktu
Read More

Rahasia Sukses Dengan Investasi Waktu

Kalau Anda belum punya uang untuk diinvestasikan, maka investasikanlah waktu Anda. Kebanyakan orang tidak menjadi lebih baik dari lima tahun lalu karena mereka hampir tidak menginvestasikan waktu untuk meningkatkan diri dalam ilmu, pengetahuan, keterampilan, dan networking mereka.
Read More