Pelajaran dari Richard Feynman dengan satu kebiasaannya yang sederhana.
Artikel ini membahas cara berpikir Richard Feynman melalui Feynman Technique, first principles, dan kebiasaan belajar yang membantunya memahami sesuatu secara mendalam.
Dulu saya mengira belajar itu sederhana.
Baca buku. Ikut seminar. Menyelesaikan kursus.
Lalu selesai.
Sekarang saya justru berpikir sebaliknya.
Belajar baru dimulai ketika saya sadar bahwa saya sebenarnya belum paham.
Ironisnya, kesadaran itu biasanya datang ketika saya diminta menjelaskan sesuatu kepada orang lain.
Semakin Rumit Penjelasannya, Belum Tentu Semakin Paham
Sebagai founder perusahaan teknologi, saya cukup sering berdiskusi dengan programmer, AI engineer, banker, regulator, investor, sampai mahasiswa.
Lucunya, saya menemukan pola yang sama di mana-mana.
Semakin rumit seseorang menjelaskan sesuatu…
Saya justru semakin curiga.
Bukan curiga orangnya tidak pintar. Tetapi curiga jangan-jangan ia sendiri belum benar-benar memahami apa yang sedang ia jelaskan.
Dan saya tidak mengatakan ini tentang orang lain. Saya sedang berbicara tentang diri saya sendiri.
Saya sudah beberapa kali “tertangkap basah” oleh pertanyaan yang sangat sederhana.
“Aan, kenapa sistemnya harus dibuat seperti ini?”
“Aan, kenapa AI bisa menghasilkan jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang hampir sama?”
“Aan, kenapa perusahaan yang produknya lebih bagus justru kalah dengan kompetitor?”
Awalnya saya menjawab dengan lancar.
Lalu di tengah penjelasan saya berhenti.
Saya sadar ada bagian yang selama ini hanya saya terima sebagai fakta.
Belum pernah benar-benar saya bongkar.
Ukuran Belajar yang Selama Ini Keliru
Saya beberapa kali membaca tulisan tentang Richard Feynman, seorang peraih Nobel Fisika.
Tetapi menurut saya, warisan terbesarnya bukanlah rumus fisika.
Melainkan cara berpikirnya.
Ia memiliki satu kebiasaan sebetulnya sederhana.
Kalau ia belum bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sederhana…
Berarti ia menganggap dirinya belum paham.
Bukan orang lain yang belum mengerti. Dirinya sendiri yang belum mengerti.
Ini mengubah cara saya belajar.
Karena selama ini ukuran belajar kita sering salah.
Kita bangga setelah selesai membaca buku.
Bangga setelah menyelesaikan pelatihan.
Bangga setelah memperoleh sertifikat.
Padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah,
“Kalau semua catatan saya diambil sekarang, apakah saya masih bisa menjelaskannya?”
Kalau jawabannya tidak…
Mungkin selama ini kita hanya sedang menyimpan informasi.
Belum membangun pemahaman.
Dari Source Code Menuju First Principles
Saya jadi teringat ketika pertama kali belajar membuat program.
Awalnya saya hanya menyalin source code dari buku.
Programnya berjalan.
Saya senang, dan merasa pintar.
Sampai suatu hari saya mengubah satu baris kecil.
Programnya rusak total.
Saya panik.
Saya baru sadar.
Selama ini saya hanya tahu apa yang harus ditulis.
Saya belum tahu mengapa harus ditulis seperti itu.
Itulah bedanya menghafal resep dengan memahami cara memasak.
Orang yang hafal resep akan kebingungan ketika satu bahan habis.
Orang yang memahami prinsip memasak bisa membuat menu baru dari bahan apa pun yang tersedia.
Dalam dunia teknologi, bisnis, bahkan kehidupan, prinsip selalu lebih berharga daripada resep.
Mungkin itulah sebabnya Feynman selalu kembali ke first principles.
Ia tidak mau sekadar menerima jawaban.
Ia ingin membangun jawabannya sendiri dari fondasi.
Paham Konsep atau Sekadar Hafal Istilah?
Mungkin sama seperti orang lain, beberapa tahun terakhir saya juga belajar tentang AI.
Saya membaca paper.
Mengikuti perkembangan model terbaru.
Mencoba berbagai tools.
Membangun AI Agent.
Semakin banyak saya belajar, semakin saya menyadari satu hal.
Yang sulit bukan mengikuti perkembangan AI.
Yang sulit adalah membedakan mana yang benar-benar kita pahami, dan mana yang hanya kita ulang dari presentasi orang lain.
Hari ini banyak orang bisa menjelaskan tentang LLM, RAG, MCP, Agentic AI, atau reasoning model.
Tetapi kalau ditanya, “Kenapa pendekatan ini dipilih? Apa asumsi di baliknya? Kapan pendekatan ini gagal?”
Jawabannya sering mulai kabur.
Saya pun masih sering seperti itu.
Karena itu saya punya kebiasaan baru.
Setiap selesai mempelajari sesuatu, saya mencoba menjelaskannya seolah-olah sedang berbicara dengan teman SMA saya.
Kalau mereka bisa mengangguk sambil berkata, “Oh… jadi begitu.”
Barulah saya merasa mulai paham.
Kalau mereka malah semakin bingung…
Biasanya yang harus belajar lagi adalah saya.
Musuh Terbesar Kita Adalah Diri Sendiri
“You Are the Easiest Person to Fool”
Ada satu kutipan Feynman yang menurut saya sangat menarik.
“The first principle is that you must not fool yourself—and you are the easiest person to fool.”
Semakin dipikirkan, semakin terasa dalam.
Di perusahaan, saya melihat banyak proses yang sebenarnya sudah tidak relevan.
Tetapi tetap dilakukan.
Alasannya sederhana. “Dari dulu memang seperti itu.”
Dalam rapat juga begitu.
Kadang sebuah ide diterima bukan karena paling benar.
Tetapi karena yang menyampaikan adalah orang paling senior.
Di kehidupan pribadi pun sama.
Banyak keyakinan kita ternyata hanya warisan.
Belum pernah benar-benar kita uji.
Kita lebih sering mempertahankan kebiasaan daripada mencari kebenaran.
Belajar dengan 12 Favourite Problems ala Feynman
Feynman mengajarkan sesuatu yang mungkin buat kita tidak nyaman.
Jangan percaya terlalu cepat, bahkan kepada pikiranmu sendiri.
Kebiasaan Feynman yang lain juga menarik.
Ia selalu membawa 12 problem favorit.
Dua belas pertanyaan yang terus hidup di kepalanya.
Saya belum punya dua belas.
Tetapi saya punya beberapa pertanyaan yang hampir setiap hari saya bawa.
Mengapa ada perusahaan yang tumbuh cepat meskipun produknya biasa saja?
Mengapa sebagian orang terus berkembang, sementara sebagian lain berhenti belajar setelah merasa sukses?
Mengapa teknologi yang sama bisa menghasilkan dampak yang sangat berbeda ketika digunakan oleh orang yang berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya belajar dengan cara yang berbeda.
Sekarang setiap membaca buku, saya tidak lagi bertanya, “Apa isi buku ini?”
Saya bertanya, “Apakah buku ini membantu menjawab salah satu pertanyaan yang sedang saya pikirkan?”
Ternyata pengalaman belajar menjadi jauh lebih hidup.
Dunia seperti berubah menjadi ruang kelas.
Percakapan dengan pelanggan menjadi pelajaran.
Keluhan pengguna menjadi data.
Kesalahan tim menjadi eksperimen.
Bahkan obrolan santai dengan sopir grab kadang memberi ide yang tidak saya temukan di ruang rapat.
Kisah favorit saya tentang Feynman bukan saat ia menerima Nobel Prize.
Tetapi saat ia sedang bermain.
Di kantin Cornell University, seseorang melempar sebuah piring makan ke udara.
Semua orang terhibur melihat piring yang berputar.
Feynman melihat teka-teki.
Rasa penasarannya membuat ia menghitung gerakan piring itu.
Bukan untuk mendapatkan penghargaan, atau untuk mengejar jabatan.
Hanya karena ingin tahu.
Dari rasa penasaran itulah lahir penelitian tentang quantum electrodynamics yang kemudian mengantarkannya meraih Nobel Prize.
Saya semakin percaya bahwa penemuan besar sering lahir bukan ketika kita sedang mengejar sesuatu.
Tetapi ketika kita benar-benar menikmati proses memahaminya.
Awal dari Semua Pertumbuhan Adalah Mengakui Ketidaktahuan
Hari ini saya tidak lagi terlalu bangga ketika berhasil menjawab banyak pertanyaan.
Saya justru lebih senang ketika menemukan pertanyaan baru yang belum bisa saya jawab.
Karena biasanya, di situlah pertumbuhan dimulai.
Mungkin itu sebabnya semakin banyak saya belajar, semakin sering saya berkata,“Ternyata saya belum paham.”
Dan anehnya…
Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti kelemahan.
Justru itulah kalimat yang membuat saya terus bergerak.
Sebab orang yang berhenti belajar bukanlah orang yang sudah tahu segalanya.
Melainkan orang yang terlalu cepat merasa sudah mengerti.
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.



