Beberapa tahun lalu, kalau ada yang mengatakan saya terlalu intens, kemungkinan besar saya akan menganggap itu pujian.

Karena sejak awal membangun bisnis, saya memang hidup dalam mode itu.

Saya bukan lulusan sekolah bisnis.
Saya bukan orang yang sejak muda bercita-cita menjadi entrepreneur atau CEO.

Saya hanya programmer yang kebetulan harus belajar menjual, merekrut orang, mengelola keuangan, menghadapi klien, menagih invoice, dan memastikan perusahaan tidak tutup bulan depan.

Ketika perusahaan masih kecil, intensitas sering kali menjadi senjata utama.
Kalau pemimpin santai, perusahaan bisa mati.
Kalau pemimpin lambat bergerak, peluang lewat begitu saja.
Kalau pemimpin tidak peduli, siapa lagi yang peduli?

Maka saya terbiasa masuk ke sebuah masalah dengan tenaga penuh.

Kalau ada proyek bermasalah, saya ingin tahu sekarang.
Kalau ada bug kritis, saya ingin tahu akar masalahnya sekarang.
Kalau ada peluang besar, saya ingin bergerak sekarang.

Bukan besok. Bukan minggu depan. Sekarang!

Dan selama bertahun-tahun, saya pikir itu normal.

Sampai suatu hari saya mulai menyadari sesuatu.

Kadang-kadang yang saya maksud sebagai kepedulian, diterima orang lain sebagai tekanan.
Yang saya maksud sebagai sense of urgency, dirasakan orang lain sebagai ketegangan.
Yang saya maksud sebagai standar tinggi, terlihat oleh sebagian orang sebagai kemarahan.

Bukan karena mereka salah atau karena saya salah.
Kami hanya berada di sisi yang berbeda dari pengalaman yang sama.

Saya melihat masalahnya.
Mereka merasakan energinya.

Dan dua hal itu ternyata tidak selalu identik.

Ketika Kepedulian Terlihat Seperti Tekanan

Ada satu pelajaran yang saya pelajari dengan cukup mahal selama membangun perusahaan.
Semakin besar perusahaan, semakin sedikit masalah yang bisa diselesaikan dengan volume suara.

Di awal perusahaan, saya bisa turun langsung.

Melihat kode.
Membuka database.
Mengecek log server.
Menemukan akar masalah.
Memberi solusi.
Selesai.

Tetapi ketika tim bertambah besar, pendekatan itu mulai kehilangan efektivitas.

Manusia Tidak Bekerja Seperti Server

Karena masalahnya bukan lagi teknologi. Masalahnya manusia.

Dan manusia tidak bekerja seperti server.
Server akan merespons lebih cepat ketika diberi resource tambahan.

Manusia tidak selalu begitu.

Kadang justru sebaliknya.

Semakin besar tekanan yang kita berikan, semakin kecil kapasitas berpikir yang tersisa.

Mengapa Tekanan Tidak Selalu Melahirkan Ownership

Saya pernah masuk ke sebuah meeting dengan perasaan sangat kecewa terhadap hasil pekerjaan yang saya lihat.

Di kepala saya, masalahnya jelas. Solusinya juga jelas.

Saya menjelaskan panjang lebar.
Cepat. Detail. Tajam.
Khas saya.

Meeting selesai.

Saya merasa pesan sudah tersampaikan.

Tetapi beberapa hari kemudian saya sadar sesuatu.

Orang-orang memang mendengar apa yang saya katakan.
Tetapi mereka tidak benar-benar memiliki masalah itu.

Mereka hanya menerima instruksi.

Tidak ada ownership yang lahir.
Tidak ada energi baru yang muncul.
Tidak ada rasa ingin memperbaiki dari dalam.

Yang ada hanya kepatuhan.
Dan kepatuhan berbeda dengan kepedulian.

Jauh berbeda.

Saya Berhenti Memberi Jawaban, Mulai Belajar Bertanya

Belakangan saya mulai belajar melakukan hal yang justru terasa tidak alami bagi pemimpin.

Bertanya.
Bukan menjawab.

Awalnya terasa lambat.
Bahkan terasa tidak efisien.

Karena sebagai pemimpin, sering kali kita sudah tahu jawabannya.
Kalau tahu jawabannya, mengapa harus bertanya?

Tetapi saya mulai melihat sesuatu.

Pemimpin Terlalu Cepat Mengambil Alih Percakapan

Ketika seseorang menemukan sendiri kekurangan dari pekerjaannya, efeknya berbeda.

Jauh lebih kuat.

Karena ide yang ditemukan sendiri akan selalu lebih berharga daripada ide yang dipaksakan dari luar.

Ruang untuk Berpikir Lebih Berharga daripada Jawaban Cepat

Maka sekarang, dalam banyak diskusi, saya lebih sering bertanya, “Kalau dinilai dari satu sampai sepuluh, menurutmu pekerjaan ini ada di angka berapa?”

Menariknya, sering kali penilaiannya tidak jauh berbeda dengan penilaian saya.

Mereka sebenarnya tahu.
Mereka melihat kekurangannya.
Mereka mengerti gap-nya.

Hanya saja, mereka membutuhkan ruang untuk mengungkapkannya.
Dan ruang itu sering kali hilang ketika founder terlalu cepat mengambil alih percakapan.

Lampu yang Terang Tidak Harus Membakar

Ada analogi yang sangat saya sukai.

Intensitas pemimpin itu seperti lampu.
Lampu menghasilkan cahaya dan panas sekaligus.

Cahayanya membantu orang melihat. Panasnya membuat orang tidak nyaman.

Dulu saya berpikir tugas saya adalah membuat lampu semakin terang.
Sekarang saya mulai sadar, tugas saya bukan hanya membuat lampu terang.
Tetapi juga memastikan ruangan tidak kepanasan.

Karena orang bisa bekerja dengan cahaya.
Tetapi sulit berpikir jernih ketika sedang merasa terbakar.

Kepemimpinan Bukan Membuat Orang Merasakan Emosi Kita

Hari ini saya masih intens.
Mungkin tetap akan selalu begitu.

Saya masih peduli terlalu dalam terhadap perusahaan yang saya bangun sejak nol.
Saya masih terganggu kalau melihat sesuatu yang seharusnya bisa lebih baik.
Saya masih bergerak cepat ketika melihat peluang.

Lebih Sedikit Panas, Lebih Banyak Cahaya

Tetapi saya sedang belajar satu hal.

Bahwa kepemimpinan bukan tentang membuat semua orang merasakan emosi yang saya rasakan.
Kepemimpinan adalah membantu orang lain menemukan alasan mereka sendiri untuk peduli.

Dan ternyata itu membutuhkan lebih sedikit panas. Lebih banyak cahaya.

Perjalanannya belum selesai.

Saya masih sering gagal.
Masih sering terlalu cepat.
Masih sering terlalu reaktif.

Tetapi semakin lama membangun perusahaan, saya semakin percaya bahwa perusahaan hebat tidak dibangun oleh pemimpin yang paling keras suaranya.
Melainkan oleh pemimpin yang mampu mengubah intensitas pribadinya menjadi energi yang membuat orang lain ikut bertumbuh.

Itu pelajaran yang masih saya pelajari sampai hari ini dalam membangun perusahaan.

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.


Personal OKR

Konten iklan ini dipilihkan oleh Google sesuai kebiasaan Anda akses informasi
0 Shares:
You May Also Like
Pemimpin yang tidak memiliki gelar
Read More

Pemimpin Yang Tidak Memiliki Gelar

Pemimpin itu bukan tentang jabatan, bukan tentang posisi, bukan struktur organisasi. Ini adalah sebuah cerita nyata pada tatanan kehidupan modern saat ini, tentang keberhasilan dalam karir, bisnis, maupun kehidupan. Seorang pemimpin hebat tidak harus memiliki gelar
Read More