Salah Satu Perasaan Paling Enak Sedunia

Hampir setiap pagi, selama lebih dari lima tahun terakhir, ritual saya tak banyak berubah. Usai subuh, ketika kebanyakan orang masih melanjutkan tidur, atau baru perjalanan ke kantor, saya membuka catatan consolidated knowledges saya. Apa yang pernah saya pelajari, dan apa yang sedang ingin saya kejar berikutnya, tersimpan rapi di sana, seperti peta kecil hidup saya.

Consolidated Knowledge

Jam 04.30 sampai 06.30, atau kadang molor sampai jam 8, saya masuk mode deep learning. Baca buku, artikel. Simak podcast. Lalu menulis.

Kadang tulisan untuk blog, LinkedIn, Instagram.
Kadang merapikan strategi untuk perusahaan.
Kadang menyiapkan bab buku berikutnya.

Sementara sebagian orang baru mulai bikin kopi, saya sudah menyelesaikan separuh “urusan penting” hari itu.

Yang tidak dikejar-kejar orang.
Yang membutuhkan kepala yang jernih.
Yang menentukan arah.
Urusan menjadi manusia yang sedikit lebih baik dari kemarin.

Itulah rahasia kecil saya tetap bisa produktif, di tengah kesibukan memimpin perusahaan. Saya memakai sistem, bukan kemauan. Dan sistem itu bernama Personal OKR.

Baca juga: Apa Itu OKR?
Saya menulis 3 seri artikel tentang OKR di tahun 2020 lalu. Itu salah satu yang berperan mengubah hidup saya.


Sekarang bicara tentang salah satu perasaan paling enak sedunia. 
Itu adalah mencentang target yang tercapai.

Itu momen kecil yang bikin nagih.

Karena otak kita, makhluk lucu bernama manusia, langsung menekan tombol dopamin setiap kali melihat progress nyata.

Sayangnya, 92% resolusi tahunan sering gagal karena terlalu abstrak.
Terlalu jauh. Terlalu kabur.
Akhirnya jarang ada momen “coret”, dan motivasi pun mati pelan-pelan.

Di Personal OKR, saya belajar membongkar mimpi besar menjadi Small Wins harian.
Target sehari yang sederhana, tapi konsisten.
Biar setiap pagi ada alasan untuk menang.

Biar produktif itu terasa, bukan cuma terlihat sibuk.

Ini “cheat code” yang saya pakai bertahun-tahun untuk mengatur hidup, kerja, dan kepala saya sendiri. Dan kalau saya boleh jujur: inilah sebab kenapa saya bisa tetap menulis, belajar, dan berkembang meski sibuk dalam pekerjaan sebagai CEO.

Kalau kamu mau ikut jalan yang sama, dan ikutan mendukung gerakan #GenerasiProduktif, silakan cek link Personal OKR ini.

Sebagai catatan, saya membuat Personal OKR ini bukan untuk jualan karena kurang penghasilan. Alhamdulillah, hasil dari menerapkan sistem ini di hidup dan bisnis saya sudah lebih dari cukup.

Ini soal legacy.


Saya ingin generasi sekarang, termasuk kamu, lebih fokus, lebih produktif, dan lebih menang dalam hidupnya. Saya ingin kamu merasakan hasil yang saya dapatkan. Bahkan, kalau bisa, lebih jauh dari saya.

Tidak ada harga khusus.

Blueprint Personal OKR ini bisa kamu dukung dengan donasi sesukamu.
Mungkin seharga secangkir kopi yang biasa kamu beli.
Itu sudah berarti kamu ikut menghidupkan gerakan #GenerasiProduktif.


Perasaan menang itu harus kamu rasakan tiap hari.

Jangan biarkan tahun ini lewat seperti tahun lalu. Mulai coret targetmu besok pagi!


Personal OKR - Dukung Gerakan Indonesia Produktif


Konten iklan ini dipilihkan oleh Google sesuai kebiasaan Anda akses informasi
0 Shares:
You May Also Like

Kisah Apple-Microsoft: Bersaing Tidak Harus Dengan Saling Menjatuhkan

Pada awal tahun 1990-an, Apple dan Microsoft bersaing untuk mendominasi pasar komputer pribadi. Namun, pada tahun 1997, Apple kehilangan dominasinya, kehabisan uang, dan terancam bangkrut. Mereka kemudian meminta bantuan saingan terbesarnya, Microsoft. Pesaing besarnya itu setuju untuk menginvestasikan US $150 juta di Apple dalam bentuk saham preferen dengan beberapa syarat. Investasi dari Microsoft memberikan Apple waktu untuk mengembangkan produk baru dan memperkuat bisnisnya. Tahun itu juga momen kembalinya Steve Jobs sebagai CEO yang kembali membawa kesuksesan bari perusahaan. Bagaimana kisahnya?
Read More

Apa Itu Fail Fast?

Keberhasilan membutuhkan banyak kesabaran dan ketekunan. Itu mengharuskan Anda untuk bereksperimen terus menerus tanpa rasa takut. Anda perlu gagal lebih cepat, belajar lebih cepat, memperbaikinya lebih cepat, agar sukses juga lebih cepat. Konsep besarnya adalah iterasi build-measure-learn. Semakin cepat kita melakukan satu siklus iterasi, semakin cepat pula kita berhasil memberi solusi yang dibutuhkan pemakai.
Read More