Ada katak yang mati kelaparan di depan makanannya sendiri.
Bukan karena tidak ada makanan.
Tapi karena makanannya tidak bergerak.
Otak katak hanya mengenali makanan sebagai sesuatu yang lonjong dan bergerak. Lalat yang diam dianggap bukan makanan. Tapi potongan kardus yang dilempar-lempar? Dimakan. Lahap. Sampai kenyang.
Lucu? Iya.
Menyedihkan? Lebih iya lagi.
Masalahnya, kita sering tidak jauh beda.
Kita merasa sudah “melihat dunia apa adanya”. Padahal yang kita lihat cuma potongan kecil—sesuai settingan di kepala kita sendiri.
Seorang sales kehilangan deal besar. Dia bilang, “Client-nya tidak punya budget.” Padahal sebenarnya, dia sendiri tidak cukup menggali kebutuhan. Dia seperti katak. Menunggu “gerakan” yang sesuai persepsinya: kalau tidak bilang butuh, ya dianggap tidak butuh.
Atau kita melihat seseorang yang pendiam, langsung diberi label: tidak kompeten. Karena di kepala kita, orang pintar itu harus cerewet, presentasi, dominan. Yang diam? Dianggap “bukan makanan”.
Padahal mungkin justru dia yang paling dalam berpikir.
Lebih parah lagi di bisnis.
Banyak founder merasa produknya sudah bagus, marketnya besar, strateginya tepat. Semua terlihat jelas. Tapi ternyata, mereka hanya melihat dunia versi “kepala mereka”. Bukan versi realita.
Seperti katak yang yakin: “Ini dunia. Yang tidak bergerak, bukan makanan.”
Padahal makanannya ada di depan mata.
Bedanya cuma satu:
dia tidak mengenali bentuknya.
Kita pun begitu.
Sering tidak gagal karena tidak ada peluang.
Tapi karena peluangnya tidak datang dalam bentuk yang kita kenal.
Jadi pertanyaannya bukan lagi, “Apakah dunia ini terbatas?”
Tapi, “Apakah cara kita melihat dunia yang terlalu sempit?”
Karena bisa jadi…kita tidak kekurangan peluang.
Kita cuma belum cukup cerdas untuk mengenalinya.
