Saat ini saya memang CEO perusahaan IT yang sudah berdiri 10 tahun lalu.
Tapi saya juga programmer. Angkatan tua. Mulai dari assembler. Zaman di mana satu titik salah bisa bikin semuanya tidak jalan, dan tidak ada Stack Overflow yang bisa ditanya, apalagi AI yang bisa disuruh “fix this error, no mistake please”.
Jadi, ketika sekarang saya lihat orang bisa bikin aplikasi hanya dengan mengetik satu paragraf, harusnya saya senang. Tapi anehnya, yang saya rasakan justru sebaliknya.
Semua Orang Bisa Ngoding, Tapi Tidak Semua Mengerti
Sekarang, semua orang bisa ngoding.
Buka AI.
Ketik: “Buatkan saya aplikasi SaaS untuk manajemen proyek, modern, scalable, no bugs.”
Enter. Beberapa menit kemudian… jadi.
UI ada. Database ada. Auth ada.
Deploy pun tinggal klik.
Kalau dilihat sekilas, ini seperti keajaiban.
Tapi coba pakai aplikasinya 10 menit saja. Biasanya mulai terasa aneh.
Tidak jelas apa yang sebenarnya diselesaikan.
Flow-nya loncat-loncat.
Fiturnya banyak, tapi tidak ada yang benar-benar penting.
Seperti warung makan yang menjual 50 menu, tapi tidak ada satu pun yang enak.
Masalahnya bukan di AI.
Masalahnya, semua orang sekarang bisa bikin tanpa benar-benar mengerti apa yang mereka buat.
Dan ini bukan hal baru.
Dulu sebelum AI pun, saya sudah lihat pola ini.
Orang copy-paste code dari forum.
Tidak paham kenapa bisa jalan.
Begitu error… bingung sendiri.
Sekarang bedanya cuma satu: scale-nya jauh lebih besar.
Kalau dulu yang bikin asal-asalan mungkin ratusan orang, sekarang jutaan.

Industrialisasi Mediokritas Terjadi Saat Tools Menggantikan Cara Berpikir
Di perusahaan saya, saya sering lihat hal ini.
Orang datang dengan ide: “Mas, kita bikin app seperti X, tapi pakai AI biar lebih cepat.”
Saya tanya sederhana saja, “Masalah apa yang sebenarnya mau diselesaikan?”
Diam.
Atau jawabannya, “Ya… biar lebih murah hehe…”
Efisien apanya? Untuk siapa? Kenapa orang harus pakai ini?
Tidak jelas.
Tapi sudah semangat ngomongin stack: pakai ini, pakai itu, pakai AI terbaru
Seolah-olah teknologi itu solusi. Padahal itu cuma alat.
Sekarang ini, saya lihat fenomena baru.
Orang lebih sibuk memilih tools daripada memahami masalah.
Setiap minggu ada saja model baru, framework baru, cara deploy baru.
Semua katanya “10x faster”.
Akhirnya waktunya habis buat nonton YouTube, baca thread, bandingin tools. Tapi tidak pernah benar-benar duduk dan berpikir.
Saya jadi ingat tukang di kampung.
Kalau dia mau bangun rumah, dia tidak mulai dari beli palu paling mahal.
Dia mulai dari “Ini rumah mau dipakai siapa?”
Ada satu hal yang menurut saya lebih berbahaya lagi.
Sekarang orang mulai kehilangan kemampuan untuk menjelaskan.
Karena terbiasa tinggal “prompt”.
Mau bikin sesuatu? Cari prompt.
Mau improve? Cari prompt lagi.
Disimpan di Notion. Dikoleksi. Dibeli.
Padahal kalau saya tanya, “Kenapa kamu mau fitur ini seperti itu?”
Banyak yang tidak bisa jawab.
Seperti chef yang masak, tapi tidak pernah benar-benar mencicipi.
Saya pernah iseng.
Saya buat postingan sederhana: “Steal this prompt.”
Ratusan orang langsung minta.
Padahal prompt-nya biasa saja. Tidak ada yang spesial.
Di salah satu postingan, saya bahkan tulis: “Comment PROMPT if you’re stupid.”
Dan tetap… ratusan orang komen.
Bukan karena mereka bodoh. Tapi karena sudah autopilot.
Di titik ini, saya mulai sadar bahwa yang sedang terjadi bukan revolusi coding.
Ini adalah “industrialisasi mediokritas”.
Semua jadi “cukup bagus”. Tapi sangat jarang yang benar-benar bagus.
Seperti kopi sachet. Di mana-mana ada.
Murah. Cepat.
Tapi tidak ada yang akan bilang, “Ini kopi terbaik yang pernah saya minum.”
Realitanya Produk Tidak Jelas Akan Tenggelam
Sekarang kita masuk ke bagian yang tidak enak didengar.
Mayoritas aplikasi hari ini tidak dibutuhkan. Dan kemungkinan besar, tahun depan fiturnya akan jadi bagian dari perusahaan besar.
Hampir selalu seperti itu cara mainnya dan sudah terjadi.
Bayangkan kamu capek-capek bikin aplikasi “AI buat ngerangkum meeting Zoom biar jadi notulen rapi”. Kamu launching, mulai ada user, mulai senang. Tiga bulan kemudian, Google atau Microsoft tiba-tiba nambahin fitur yang sama langsung di Google Meet atau Microsoft Teams.
Gratis. Sudah nempel. Tidak perlu install apa-apa.
Akhirnya bukan aplikasimu yang kalah. Tapi memang dari awal, kamu main di tempat yang bukan milikmu.
Jadi kalau kamu bikin sesuatu hanya karena “bisa”, kemungkinan besar itu akan tenggelam.
Bukan karena jelek. Tapi karena tidak penting.
Cara Bertahan di Era AI yaitu Kembali ke Fondasi
Lalu harus bagaimana?
Saya tidak percaya shortcut.
Dari dulu, dari zaman assembler sampai sekarang AI, satu hal tidak berubah: fondasi tetap menang.
Pertama, pelan sedikit.
AI bikin kamu bisa 10x lebih cepat.
Jangan dipakai untuk bikin 10x lebih banyak.
Pakai untuk bikin lebih benar.
Saya sering lihat developer sekarang bangga “dalam sehari saya bikin 3 fitur.”
Saya lebih tertarik tanya, “Dari 3 itu, mana yang benar-benar dipakai user?”
Kedua, paksa diri untuk berpikir sebelum ngoding.
Saya pribadi, sampai sekarang masih suka tulis di kertas.
Bukan karena tidak bisa langsung buka laptop atau hape. Tapi karena di kertas kita tidak bisa bohong.
Di sana kelihatan alurnya masuk akal atau tidak, problemnya nyata atau tidak
Kalau di kertas saja sudah tidak jelas, di code biasanya lebih parah.

Ketiga, belajar hal-hal yang membosankan.
Ini bagian yang paling banyak dihindari: struktur data, arsitektur, clean code, cara berpikir sistem.
Orang bilang: “AI nanti bisa handle itu.”
Mungkin bisa. Tapi AI tidak bisa menggantikan keputusan. Dan coding, pada akhirnya adalah tentang keputusan.
Keempat, jangan serahkan kendali ke AI.
Gunakan AI untuk eksekusi. Jangan untuk berpikir.
Kalau kamu tidak tahu kenapa code itu dibuat, itu bukan code kamu.
Itu cuma sesuatu yang kebetulan kamu jalankan.
Kelima, pahami realita bisnis.
Di dunia yang semua orang bisa bikin produk, yang menang bukan yang paling cepat.
Yang menang yang paling jelas nilainya, dan paling terasa niatnya.
User itu tidak bodoh.
Mereka mungkin tidak bisa jelaskan secara teknis, tapi mereka bisa merasakan ini dibuat serius, atau asal jadi.
Saya sering bilang ke tim, “Jangan bikin aplikasi yang hanya bisa jalan. Bikin aplikasi yang layak dipakai.”
Bedanya tipis. Tapi dampaknya jauh.
Takeaway
Penutupnya gini.
Sekarang semua orang bisa ngoding. Seperti semua orang bisa lari.
Tapi tidak semua orang tahu arah. Dan lari tanpa arah, hanya akan bikin capek.
AI akan makin canggih. Tools akan makin cepat.
Tapi justru di situ nilai manusia akan kelihatan.
Bukan dari seberapa cepat dia bikin. Tapi dari seberapa dalam dia berpikir.
Pada akhirnya, coding itu bukan soal mengetik.
Coding itu soal memahami.
Kalau kamu paham, AI akan mempercepatmu.
Kalau tidak, AI hanya akan mempercepat kamu menuju sesuatu yang tidak penting.
Terimakasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.



