
Ada masa ketika saldo Rp 100 ribu membuat tidur tidak nyenyak.
Lalu hidup berubah.
Saldo menjadi Rp 1 juta. Gelisahnya tidak hilang. Hanya naik kelas.
Kemudian Rp 10 juta terasa kurang aman. Rp100 juta terasa menipis. Rp 500 juta terasa sedikit. Bahkan ada orang yang melihat Rp5 miliar di rekeningnya dan tetap merasa belum stabil.
Ternyata yang membuat manusia tenang bukan jumlah angkanya.
Karena kecemasan itu seperti api. Jika sumbernya ada di hati, ia akan membakar apa pun yang dilemparkan ke dalamnya. Kayu sedikit terbakar. Kayu banyak pun tetap terbakar.
Saya pernah melihat orang dengan penghasilan pas-pasan yang bisa tertawa lepas saat makan di warung pinggir jalan. Saya juga melihat orang yang hartanya berlipat-lipat lebih besar, tetapi wajahnya selalu tegang seperti sedang menunggu badai datang.
Masalahnya bukan pada jumlah uang.
Masalahnya pada tempat kita menggantungkan rasa aman.
Uang itu seperti air di telapak tangan. Kita bisa menggenggamnya sekuat apa pun, tetapi selalu ada kemungkinan ia mengalir pergi. Bisnis bisa turun. Pasar bisa berubah. Investasi bisa salah arah. Kesehatan bisa terganggu. Dalam satu kejadian yang tidak pernah masuk perhitungan, angka yang dibangun bertahun-tahun bisa berubah dalam hitungan hari.
Karena itu, bagi orang yang beriman, ketenangan tidak lahir dari besarnya rekening.
Ketenangan lahir dari keyakinan bahwa rezeki bukan berada di rekening, melainkan di tangan Allah.
Rekening hanyalah tempat singgah.
Sumbernya tetap Allah.
Ketika kita yakin bahwa Allah yang memberi, maka kita juga akan yakin bahwa Allah mampu memberi lagi. Dan ketika Allah menghendaki, Dia juga mampu mengambil kembali apa pun yang ada di tangan kita.
Maka ukur kekayaan bukan dari berapa yang tersimpan hari ini.
Tetapi dari seberapa tenang hati kita ketika melihat angka itu naik maupun turun.
Sebab sering kali, orang yang paling kaya bukan yang memiliki saldo terbesar.
Melainkan yang paling yakin bahwa hidupnya tetap dicukupkan oleh Allah, berapa pun angka yang sedang tertera di layar rekeningnya.
