Kemampuan berbicara itu penting, tetapi kemampuan menahan diri jauh lebih penting.

Ada saatnya kita perlu menjelaskan. Ada saatnya kita perlu menegur. Ada saatnya kita justru perlu diam.
Diam ketika sedang marah, karena emosi sering membuat kita mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita katakan.
Diam ketika fakta belum lengkap, cerita belum terverifikasi, atau kita hanya mendengar dari satu sisi. Jangan membangun kesimpulan dari informasi setengah pihak.
Diam ketika kata-kata kita hanya akan mempermalukan orang yang lebih lemah. Kekuatan seseorang justru terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa membalas.
Diam ketika orang lain sedang berbicara. Mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran untuk menjawab.
Diam ketika pembicaraan menyentuh sesuatu yang sakral, ketika kita tergoda menjadikan dosa sebagai bahan candaan, atau ketika humor mulai kehilangan adab.
Diam ketika kita tahu ucapan itu akan merusak reputasi seseorang, persahabatan, keluarga, atau kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Diam ketika kita sedang terlalu kritis.
Diam ketika kita harus berteriak agar pendapat kita dianggap benar.
Diam ketika urusan itu memang bukan urusan kita.
Diam ketika kita belum yakin dan ada kemungkinan besar beberapa jam atau beberapa hari kemudian kita harus menarik kembali ucapan kita.
Dan ada satu bentuk diam yang sering paling sulit:
Diam ketika sebenarnya kita punya banyak hal untuk dikatakan.
Saya belajar bahwa tidak setiap masalah membutuhkan komentar.
Kadang orang hanya membutuhkan ruang untuk berpikir. Kadang tim membutuhkan kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Kadang sebuah konflik justru mati sendiri kalau tidak diberi bahan bakar berupa opini.
Lidah itu kecil. Dampaknya bisa sangat panjang.
Satu kalimat bisa membangun kepercayaan.
Satu kalimat bisa menghancurkan reputasi.
Satu kalimat bisa menyelesaikan konflik.
Satu kalimat juga bisa membuat konflik hidup bertahun-tahun.
Karena itu, sebelum bicara, seringlah bertanya, “Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah sekarang waktunya? Apakah cara saya menyampaikannya akan membawa kebaikan?”
Kalau jawabannya belum jelas, mungkin diam adalah pilihan yang paling dewasa.
“Whoever guards his mouth and tongue keeps his soul from troubles.”
Menjaga mulut bukan berarti kita tidak punya keberanian untuk bicara.
Justru karena kita punya kendali atas diri sendiri.
