Ada orang miskin yang tidak pernah tersenyum.
Ada orang kaya yang tidak pernah tidur nyenyak.
Ada yang dompetnya tipis, hidupnya pahit.
Ada yang rekeningnya tebal, pikirannya kusut.
Jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan, “Kaya pasti bahagia.”
Atau sebaliknya, “Miskin itu lebih dekat dengan surga.”
Dua-duanya bisa salah. Dua-duanya bisa benar.
Tergantung siapa yang memegang kendali: hartanya, atau dirinya.

Saya pernah lihat orang yang uangnya banyak, tapi waktunya habis untuk membuktikan bahwa dia lebih hebat dari orang lain. Ibadahnya? Sempat kalau tidak ada meeting. Sedekahnya? Kalau ada kamera.
Saya juga pernah lihat orang yang tidak punya apa-apa, tapi waktunya habis untuk iri.
Doanya panjang, tapi lisannya tajam. Salatnya rajin, tapi hutangnya tidak dibayar-bayar.
Kaya bisa melalaikan. Miskin juga bisa melalaikan.
Uang itu seperti bensin.
Kalau kamu tidak tahu mau ke mana, bensin cuma akan membawamu tersesat lebih jauh. Dan kalau kamu tidak punya bensin, kamu bisa sibuk menyalahkan jalan.
Kaya raya tidak otomatis membuat orang jahat.
Miskin pun tidak otomatis membuat orang suci.
Kekuatan juga begitu.
Orang kuat bisa menindas.
Orang lemah bisa memanipulasi.
Yang kuat menipu dengan tekanan.
Yang lemah menipu dengan air mata.
Jangan salah. Drama juga alat kekuasaan.
Maka buat saya, ini bukan soal memilih jadi kaya atau miskin. Bukan soal kuat atau lemah.
Kamu harus memilih kaya.
Memilih kuat.
Memilih bahagia.
Memilih rajin ibadah.
Memilih jujur.
Memilih tidak jahat.
Dan itu bukan kontradiksi.
Ada yang bilang, “Kalau mau dekat dengan Tuhan, jangan terlalu mengejar dunia.”
Saya tidak sepakat sepenuhnya.
Masalahnya bukan di dunianya. Masalahnya di hatinya.
Pisau di tangan dokter menyelamatkan nyawa.
Pisau di tangan perampok mengancam nyawa.
Uang di tangan orang benar bisa membangun sekolah, masjid, rumah sakit.
Uang di tangan orang rakus bisa membangun kerajaan kesombongan.
Jadi yang harus dibenahi bukan jumlah uangnya. Tapi kualitas manusianya.
Kalau hari ini kamu tidak bahagia dengan keadaanmu, besar kemungkinan kamu juga tidak akan bahagia saat keadaanmu berubah.
Karena bahagia bukan lokasi. Bahagia itu cara memandang.
Kalau hari ini kamu suka mengeluh karena motor, nanti kamu akan mengeluh karena mobil. Kalau hari ini kamu iri pada gaji orang lain, nanti kamu akan iri pada perusahaan orang lain. Kalau hari ini kamu malas ibadah karena sibuk, nanti kamu akan tetap sibuk, hanya dengan angka nol lebih banyak di rekeningmu.
Level boleh naik. Karakter kalau tidak naik, ya tetap sama.
Saya belajar satu hal: keadaan hanya memperbesar (amplify) siapa diri kita sebenarnya.
Kalau kamu pemarah saat miskin, kamu bisa lebih galak saat kaya.
Kalau kamu dermawan saat sempit, kamu akan lebih lapang saat luas.
Maka jangan menunggu kaya untuk jadi baik.
Jangan menunggu kuat untuk jadi jujur.
Jangan menunggu sukses untuk rajin ibadah.
Bangun itu sekarang. Di titik ini. Di kondisi ini.
Karena ketika kesempatan datang, dan ia pasti datang bagi yang menyiapkan diri, yang diuji bukan rekeningmu. Tapi akarmu.
Saya tidak ingin memiskinkan diri demi terlihat suci.
Saya juga tidak ingin menghalalkan segala cara demi terlihat sukses.
Saya ingin kaya dengan cara yang benar.
Kuat dengan proses yang halal.
Bahagia tanpa menyakiti.
Rajin ibadah tanpa pamer.
Jujur meski dianggap aneh di awal.
Mungkin lambat. Mungkin sepi. Mungkin tidak dielu-elukan.
Tapi tenang.
Dan ketenangan itu mahal.
Bahkan lebih mahal dari apa pun yang bisa dibeli uang.
Kalau hari ini kamu belum bahagia, jangan buru-buru ganti keadaan. Coba ganti cara berpikir.
Karena kalau hatimu masih gelap di kamar sempit, ia tidak otomatis terang hanya karena pindah ke istana.
Bahagia bukan soal di mana kamu berdiri.
Tapi siapa kamu saat berdiri di sana.
