Suatu saat saya berada di sebuah toko di mal mewah.
Bukan di Dubai. Bukan pula di Singapura.

Tapi perasaannya sama.

Di depan saya ada sebuah barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Barang lama masih berfungsi dengan baik. Tidak rusak. Tidak menghambat pekerjaan. Tidak membuat hidup saya lebih buruk.

Tapi entah kenapa, tangan ini terasa gatal.

Saya hampir membelinya.

Bukan karena saya membutuhkannya.
Tapi karena semua orang yang saya lihat seolah sudah memilikinya.

Di situlah saya sadar.

Ada pajak yang jauh lebih mahal daripada PPh, PPN, atau bea masuk.
Namanya: Lifestyle Tax. Pajak Gaya Hidup.

Dan anehnya, tidak ada negara yang memaksa kita membayarnya.

Kita membayarnya dengan sukarela.

Ketika Mimpi Kita Diam-Diam Diganti

Ketika saya membangun perusahaan dari nol, mimpi saya sederhana.

Bisa menggaji karyawan tepat waktu.
Bisa membayar tagihan kantor tanpa deg-degan.
Bisa membantu famili.
Bisa menyekolahkan anak dengan tenang.
Bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan saldo rekening yang menipis.

Sederhana sekali.

Tapi semakin bisnis tumbuh, semakin banyak hal baru yang tiba-tiba terlihat “normal”.

Mobil yang dulu terasa mewah menjadi biasa.
Smartphone yang dulu terasa mahal menjadi standar.
Restoran yang dulu hanya untuk perayaan menjadi tempat makan rutin.
Lingkaran pergaulan diam-diam mengubah definisi sukses.

Tanpa sadar, garis finish terus bergeser. Dan itulah cara Lifestyle Tax bekerja.

Bukan mengambil uang dari rekening kita.
Melainkan mencuri mimpi asli kita.

Pelan-pelan. Tanpa suara.

Masalah terbesar bukan ketika kita terinspirasi oleh lingkungan.
Masalah dimulai ketika kita terserap oleh lingkungan.

Ada perbedaan besar.

Melihat rumah miliaran rupiah lalu berkata, “Suatu hari saya ingin mencapainya,” itu inspirasi.
Melihat rumah miliaran rupiah lalu pulang ke rumah sendiri dengan perasaan gagal, itu asimilasi.

Yang pertama memberi energi.
Yang kedua menguras jiwa.

Banyak orang tidak sadar kapan perpindahan itu terjadi.
Karena keinginan tidak masuk lewat pintu depan.

Ia masuk lewat Instagram.
Lewat YouTube.
Lewat circle.
Lewat obrolan kopi.
Lewat algoritma.

Setiap hari sedikit demi sedikit.
Sampai suatu hari kita menginginkan sesuatu yang bahkan tidak pernah ada dalam daftar mimpi kita.

Jalan Tengah yang Sulit di Era Pamer

Menariknya, Islam sudah mengingatkan soal jebakan ini jauh sebelum ada Instagram, TikTok, atau influencer.

Banyak orang salah paham ketika mendengar anjuran hidup sederhana.

Mereka mengira harus memakai pakaian jelek.
Mengendarai kendaraan seadanya.
Atau sengaja terlihat miskin.

Padahal bukan itu maksudnya.

Imam As-Sarakhsi dalam kitab Al-Mabsuth menjelaskan hadits tentang larangan memakai pakaian syuhrah, pakaian yang dipakai agar menjadi pusat perhatian.

Beliau menjelaskan bahwa pakaian syuhrah bisa muncul dalam dua bentuk yang sama-sama keliru.
Terlalu mewah sampai semua orang menoleh.
Atau terlalu kumal sampai semua orang juga menoleh.

Yang satu berlebihan.
Yang satu terlalu pelit.

Dan kata beliau, sebaik-baik perkara adalah jalan tengah.

Saya suka sekali penjelasan ini.

Karena ternyata yang berbahaya bukan hanya kemewahan.
Terkadang kesederhanaan pun bisa menjadi pertunjukan.

Ada orang yang memamerkan mobil mewah.
Ada pula yang memamerkan kesederhanaannya.

Dua-duanya sama-sama ingin dilihat.
Dua-duanya sama-sama menjadikan perhatian orang lain sebagai bahan bakar.

Padahal inti kebebasan adalah ketika kita tidak lagi hidup berdasarkan tepuk tangan penonton.

Saat Kesuksesan Berubah Menjadi Pertunjukan

Saya sering bertemu pengusaha muda.

Awalnya ingin membangun bisnis yang sehat.
Beberapa tahun kemudian tujuan hidupnya berubah menjadi konten.

Mobil untuk difoto.
Liburan untuk dipamerkan.
Makan malam untuk diposting.

Bahkan kesuksesan pun tidak lagi dinikmati.
Hanya didokumentasikan.

Mereka terlihat lebih sukses.
Tapi belum tentu lebih bahagia.

Mereka lebih terlihat.
Belum tentu lebih merdeka.

Dan ada perbedaan besar antara keduanya.

Ironinya begini.
Banyak orang bekerja keras untuk mendapatkan kebebasan finansial.
Lalu setelah uangnya datang, mereka masuk ke penjara baru.

Penjara sosial.
Penjara ekspektasi.
Penjara validasi.

Mereka tidak lagi membeli sesuatu karena suka.
Mereka membeli karena takut dianggap tertinggal.
Karena takut dianggap gagal.
Karena takut tidak relevan.
Karena takut tidak terlihat sukses.

Padahal ketakutan itu tidak pernah masuk dalam business plan mereka.

Yang lebih berbahaya lagi, Lifestyle Tax tidak hanya menggerus uang.
Ia menggerus identitas.

Lima juta rupiah yang salah belanja bisa kembali.
Lima ratus juta yang salah investasi bisa dicari lagi.

Tapi lima tahun mengejar tujuan yang sebenarnya bukan tujuan kita?
Itu jauh lebih mahal.

Karena waktu tidak memberikan refund.

Saya pernah melihat orang yang dulunya ingin membangun keluarga yang hangat.
Sekarang terlalu sibuk membangun citra.

Saya pernah melihat orang yang dulunya ingin hidup tenang.
Sekarang hidupnya penuh kebisingan yang ia ciptakan sendiri.

Saya pernah melihat orang yang dulunya mengejar kebebasan.
Sekarang justru menjadi budak dari standar hidup yang terus naik.

Karena itu saya punya satu pertanyaan sederhana yang akhir-akhir ini sering saya pakai sebelum membeli sesuatu.
Bukan, “Apakah saya mampu membelinya?”
Bukan juga, “Apakah ini investasi yang bagus?”
Tapi, “Apakah ini benar-benar saya?”
Atau sebenarnya ini suara lingkungan yang sedang berbicara melalui saya?

Pertanyaan itu sederhana.
Tapi sering menyelamatkan kita dari keputusan yang mahal.

Sangat mahal.

Melakukan Audit atas Kehidupan yang Kita Jalani

Setahun sekali kita menghitung pajak.
Mungkin sudah saatnya kita juga menghitung Lifestyle Tax.

Audit mobil yang kita pakai.
Audit rumah yang kita tinggali.
Audit barang yang kita beli.
Audit orang-orang yang kita kagumi.
Audit tujuan yang sedang kita kejar.

Lalu tanyakan dengan jujur, “Apa ini benar-benar mimpi saya?”
Atau saya hanya sedang membayar upeti kepada sistem yang tidak pernah saya pilih?

Karena pada akhirnya, pajak negara mungkin sulit dihindari.
Tapi Lifestyle Tax?
Itu satu-satunya pajak di dunia yang bisa berhenti kita bayar begitu kita menyadari keberadaannya.

Dan sering kali, bentuk kebebasan yang paling mahal bukanlah memiliki lebih banyak.
Melainkan tetap menjadi diri sendiri ketika semua orang sedang berlomba menjadi orang lain.

Kadang kemewahan tertinggi bukan membeli sesuatu yang baru.
Melainkan tetap setia pada mimpi lama yang dulu membuat kita memulai semuanya.

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.



Konten iklan ini dipilihkan oleh Google sesuai kebiasaan Anda akses informasi
0 Shares:
You May Also Like
Pikiran bawah sadar
Read More

Rahasia Pikiran Bawah Sadar Anda

Pikiran bawah sadar memegang peran penting bagi kehidupan Anda. Semua memori, nilai-nilai hidup Anda, keyakinan kebenaran Anda, kepribadian, program-program, tersimpan dengan baik di bawah sadar. Bahkan semua informasi yang masuk tanpa sepengetahuan pikiran sadar kita pun ia simpan
Read More