Seperti biasa, setiap pagi saya selalu melihat catatan consolidated knowledges untuk belajar, dan saya menemukan kalau kira-kira sebelas tahun lalu, saya pernah mendengarkan Paul Rulkens berbicara di TEDxMaastricht.
Saya buka lagi link nya, mendengarkan ulang.
Waktu itu, cara dia bicara seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang selama ini kita semua lihat, tapi tidak pernah kita pikirkan.
Begini kira-kira yang dia bawakan, tentu saja dengan sedikit tambah kurang dari saya.
Mayoritas Hampir Selalu Salah
Paul membuka ceritanya dengan kisah Einstein.
Tahun 1942, Einstein membagikan soal ujian fisika ke mahasiswa tingkat akhir. Tidak ada yang spesial, kecuali satu hal: itu soal yang sama persis dengan tahun sebelumnya.
Asistennya langsung gelagapan.
“Doktor, ini soalnya sama seperti yang tahun lalu!”
Einstein cuma mengangguk.
“Tapi… kok bisa?”
Jawabannya ringan, tapi tajam, “Karena jawabannya sudah berubah.”
Ruangan TEDx hening beberapa detik.
Seperti semua orang tiba-tiba menyadari bahwa hidup juga begitu.
Pertanyaannya sama. Jawabannya berubah.
Apa yang dulu bisa membawa kita sampai titik hari ini, bisa jadi tidak akan bisa membawa kita ke titik esok. Dan kalau mau hasil yang baru, ya lakukan hal yang baru.
Hidup memang sesederhana dan sesulit itu.
Paul kemudian bilang, ketika manusia mentok, mereka biasanya cuma melakukan dua hal: melakukan lebih keras, atau lebih pelan. Dan yang jarang mereka lakukan adalah Mengubah arah.
Desain Otak Manusia itu Hemat Energi
Menurut data, hanya 3% manusia yang benar-benar berani melakukan hal berbeda. Sisanya, 97%, menabrak tembok yang sama, berkali-kali, dengan harapan suatu hari temboknya kasihan lalu membukakan lubang.
Kenapa begitu? Karena otak kita itu hemat energi. Berpikir itu “mahal”. Maka otak selalu buru-buru menghentikan proses berpikir, dan kembali ke autopilot.
95% hidup kita dijalankan mode autopilot.
Makanya bisa nyetir 30 menit tanpa sadar apa pun. Makanya bisa ikut rapat tapi pikiran entah kemana. Dan kalau kamu baca ini sambil autopilot… ya, saya tahu.
Autopilot itu melahirkan tunnel vision.
Merasa jago, padahal cuma tidak sadar betapa kita tertinggal. Seperti pembalap pemula yang melihat kaca spion kosong lalu merasa juara pertama, padahal lombanya belum selesai.
Benarkah Kita Berpikir Out Of The Box?
Paul menggambar sebuah “box” di panggung.
Kita pikir kita “berpikir out of the box”.
Padahal box kita kecil sekali.
Contohnya simpel saja.
Jika saya bilang, “Malam ini makan apa?”, jawabanmu berkisar di: ayam goreng, pizza, restoran, masak di rumah.
Nyaris tidak ada yang berfikir: ambil bangkai hewan di pinggir jalan tol.
Mungkin itu menjijikkan buat kita. Tapi itu normal buat sebagian dunia.
Artinya: batas imajinasi kita sempit. Sangat sempit.
Di dunia profesional pun sama.
Ada “norma”, ada “standar”.
Kata norma itu singkatan dari normal.
Bukan aturan tertulis, tapi aturan yang diam-diam semua orang patuhi karena “begitulah caranya sejak dulu.”
Contoh klasik:
Di restoran, orang makan dulu, bayar kemudian.
Di bank, orang titip uang, lalu bank meminjamkan ke orang lain.
Bagaimana dengan zaman sekarang? Kebanyakan masih standar.
Di dunia kantor:
Normanya: rapat harus ada.
Kalau tidak rapat, merasa tidak bekerja.
Padahal separuh rapat hari ini cuma ajang memindahkan informasi yang sebenarnya bisa ditulis dalam tiga paragraf.
Di dunia startup:
Normanya: kalau mau cepat tumbuh, harus bakar uang.
Tidak bakar uang dianggap tidak ambisius.
Padahal banyak perusahaan besar hari ini justru dibangun oleh orang yang tidak punya uang untuk dibakar, jadi mereka harus pintar dari awal.
Di dunia teknologi:
Normanya: rilis produk harus sempurna.
Padahal pengguna lebih suka produk yang belum sempurna tapi cepat berkembang, daripada produk sempurna yang lahir terlambat dan basi.
Di dunia HR:
Normanya: bekerja harus dari kantor agar “budaya” terjaga.
Padahal talent terbaik zaman sekarang lebih memilih bekerja dari dua kafe berbeda dan satu bandara dalam seminggu.
Budaya bukan soal lokasi, tapi kualitas orangnya.
Di dunia kreator:
Normanya: bikin konten harus panjang, estetis, penuh transisi.
Padahal audiens hari ini lebih menghargai konten jujur, mentah, satu take, bahkan kadang miring sedikit, asal terasa manusia.
Di dunia pendidikan:
Normanya: nilai bagus = anak pintar.
Padahal nilai bagus tidak menjamin mereka survive di dunia nyata.
Di dunia karier:
Normanya: kerja keras, nabung, beli rumah.
Padahal generasi hari ini cari kerja yang meaningful, bukan sekadar gaji, dan “rumah” diganti server cloud, tempat mereka menyimpan hidupnya.
Semua itu norma.
Standar. Kebiasaan.
Kotak kecil yang membuat orang percaya bahwa “cara yang benar” sudah disediakan oleh generasi sebelumnya.
Dan kalau kamu melakukan hal yang sama seperti semua orang, kamu dapat hasil yang sama seperti semua orang.
Normal. Rata-rata. Biasa saja.
Padahal kamu ingin luar biasa.
Nah, bagaimana caranya keluar dari box kecil itu?
Inovasi itu Tentang Merusak Norma
Paul cerita tentang supir taksi London.

Untuk jadi supir taksi, mereka harus hafal jalanan London luar-dalam. Itu butuh bertahun-tahun. Tapi ketika ingin memperbesar bisnis dengan cepat, mereka bertanya, “Bagaimana mempekerjakan supir yang tidak hafal sama sekali jalanan London, tapi tetap bisa narik penumpang?”
Solusinya? Mereka menciptakan dua jenis taksi:
- Taksi normal.
- Taksi dengan plang besar, “Supir tak tahu apa-apa tentang kota London, tapi sangat senang diberi arahan.”
Jenius.
Ya, waktu itu.
Orang-orang lokal yang hapal kota langsung merasa jadi bos. Akhirnya mereka justru senang naik taksi ini.
Kalau di zaman sekarang, masalah itu selesai dengan GPS.
Tapi, dari situ saya belajar:
Setiap lompatan besar dalam sejarah lahir karena seseorang berani merusak norma.
IKEA lahir dari mematahkan norma: toko furniture yang tidak lagi merakit furniture untuk pembelinya.
Dell lahir dari mematahkan norma: toko komputer yang tidak lagi butuh toko fisik.
Hampir semua inovasi besar dimulai dari satu kalimat sederhana, “Kenapa harus ikut cara semua orang?”
Lalu Paul menutup dengan kutipan Marcus Aurelius:
Tujuan hidup bukan mengikuti mayoritas. Tujuan hidup adalah menghindari menjadi bagian dari kerumunan yang tersesat, tapi mereka merasa benar.
Kenyataannya? 97% orang akan mengikuti arus, dan akhirnya bekerja untuk 3% orang yang memutuskan untuk melawan arus.
Kamu mau yang mana?
Mulai hari ini, kamu bisa memilih: Tetap menjadi mayoritas yang nyaman, atau menjadi minoritas yang berani, yang tahu bahwa mayoritas itu biasanya salah.
Pilihan itu sepenuhnya milikmu.

Gerakan #GenerasiProduktif Anti Wacana!


