Saya pernah memperhatikan satu hal sederhana.
Orang bisa berbeda pendapat karena berbeda data.

Tetapi diskusi biasanya benar-benar mati ketika ego merasa sedang terancam.

Ada dua cara yang paling sering terjadi.

Cara Pertama: Merasa Diserang Padahal Tidak Ada yang Menyerang

Yang pertama: merasa diserang.
Yang kedua: menyerang orang yang berbeda pendapat.

Mungkin Anda pernah melihat contohnya sehari-hari.

Ini kejadian yang mungkin bisa menggambarkannya:

Seseorang sedang membaca berita di ponselnya.
Beritanya tentang pejabat yang terlalu sibuk pencitraan.

Tidak ada nama. Tidak ada foto. Tidak ada inisial.
Temannya ikut membaca.

Tiba-tiba orang itu berkata, “Ini pasti nyindir aku.”

Padahal berita itu dibaca banyak orang. Kenapa hanya dia yang merasa sedang “dipanggil”?

Personalization: Ketika Semua Terasa Tentang Kita

Di psikologi kognitif, ada istilah personalization.
Sederhananya, kita menganggap sesuatu yang sebenarnya umum sebagai sesuatu yang secara khusus ditujukan kepada diri kita.

Nah, biasanya personalization ditemani oleh emotional reasoning.

Logikanya kira-kira begini:

“Saya merasa diserang. Berarti saya memang sedang diserang.”

Padahal perasaan itu bukan bukti.

Kita Sering Marah pada Tafsiran, Bukan Kejadian

Sebagai manusia, kita itu sering begini:
Sering kali kita bukan marah pada kejadiannya, tetapi pada tafsiran kita terhadap kejadian itu.

Misalnya, seseorang tidak membalas pesan WhatsApp kita.

Kejadiannya sederhana: dia belum membalas.

Tapi kemudian kepala kita mulai bercerita:
“Dia sengaja mengabaikan saya.”
“Dia sudah tidak menghargai saya.”
“Pasti dia punya masalah dengan saya.”

Akhirnya kita marah.

Padahal, yang benar-benar terjadi baru satu: pesan kita belum dibalas.
Tapi otak sering tidak suka ruang kosong. Jadi ia mengisinya dengan cerita.
Dan sering kali, kita bereaksi terhadap cerita itu seolah-olah cerita tersebut adalah fakta.

Cermin tidak pernah bilang kita jelek.

Tetapi kalau kita sedang tidak suka dengan wajah sendiri, kita bisa marah kepada cermin.

Padahal cermin cuma bekerja. Ia memantulkan.

Cara Kedua: Menyerang Orang yang Berbeda Pendapat

Cara kedua lebih sering terjadi di media sosial.

Seseorang mengkritik sebuah kebijakan.

Pakai data. Pelan-pelan. Santai menyampaikannya.

Lalu jawabannya, “Kalau nggak suka, pindah negara saja.”
“Dasar pembenci!”

Saya selalu tertarik dengan jawaban seperti ini.

Karena orangnya terlihat sedang menjawab. Padahal sebenarnya tidak.
Tidak ada data yang dibantah. Tidak ada argumen yang disentuh.

Yang diserang justru orangnya.

Ad Hominem: Ketika Argumen Diganti dengan Serangan

Dalam logika informal, ini dikenal sebagai ad hominem.

Serang pembawa argumen, bukan argumennya.

“Kalau nggak suka, pindah saja” juga merupakan bentuk false dilemma, bahkan dikenal dalam pola ergo decedo atau love it or leave it.

Seolah-olah pilihannya hanya dua:
Setuju atau pergi.

Kritik Bukan Berarti Tidak Peduli

Padahal ada pilihan ketiga: mengkritik karena masih peduli.

Albert O. Hirschman menyebutnya voice.

Dalam buku Exit, Voice, and Loyalty, orang yang tidak puas tidak selalu harus pergi.

Dia bisa bersuara.

Dan menurut saya, justru itulah bagian menariknya.

Pergi itu relatif mudah.
Tetap tinggal, peduli, lalu repot-repot memperbaiki sesuatu yang kita anggap salah, jauh lebih melelahkan.

Ketika “Pembenci” Menjadi Tombol Stop Berpikir

Masalahnya, kita sering tidak tahan mendengar voice.
Kita lebih suka loyalty yang bentuknya persetujuan.

Begitu ada yang berbeda, langsung masuk kotak:
“Pembenci.”
“Tidak nasionalis.”
“Tidak tahu bersyukur.”

Ini bukan lagi diskusi.

Ini thought-terminating cliché.

Istilah yang digunakan Robert Jay Lifton untuk menggambarkan kalimat yang terdengar tegas, tetapi sebenarnya berfungsi menghentikan proses berpikir.

Kalimat pendek. Emosional. Dan efektif membuat percakapan selesai sebelum pikiran sempat bekerja.

Ketika Otak Tidak Lagi Mencari Kebenaran

Yang lebih menarik lagi adalah motivated reasoning.

Motivated Reasoning: Otak sebagai Pengacara

Otak manusia ternyata tidak selalu bekerja seperti hakim yang mencari kebenaran.
Kadang ia bekerja seperti pengacara.

Tugasnya bukan mencari apa yang benar.
Tugasnya mencari pembenaran atas apa yang sudah kita yakini.

Karena itu data yang mendukung pendapat kita terasa objektif.
Data yang bertentangan terasa mencurigakan.
Orang yang setuju dengan kita dianggap pintar.
Orang yang berbeda dianggap punya motif.

Social Identity Theory: Ketika Kritik Terasa seperti Serangan

Di sinilah social identity theory ikut bermain.

Kita membagi dunia menjadi: “kita” dan “mereka”.

Begitu kritik dianggap sebagai serangan terhadap kelompok, otak berhenti memprosesnya sebagai informasi. Ia memprosesnya sebagai ancaman identitas.

Lalu kita membela kelompok. Bukan membela kebenaran.

Masalahnya Bukan Kurang Pintar, Tapi Terlalu Yakin

Saya kira ini yang membuat diskusi publik kita sering melelahkan.

Bukan karena semua orang bodoh. Justru karena banyak orang pintar yang terlalu terikat pada kesimpulannya sendiri.

Mereka punya data. Punya referensi. Punya istilah. Punya argumen.
Tapi lupa satu hal:
pikiran yang cerdas juga bisa dipakai untuk membenarkan sesuatu yang ingin kita percaya.

Mungkin Kita Perlu Belajar Bertanya Lagi

Maka sekarang kalau saya membaca kritik, saya mencoba menahan satu refleks: “Ini nyindir saya?”
Saya ganti dengan: “Ada benarnya tidak?”

Dan kalau seseorang mengkritik saya, saya juga berusaha tidak sibuk mencari tahu: “Dia membenci saya?”
Saya lebih suka bertanya, “Bagian mana dari argumennya yang salah?”

Kalau salah, bantah.
Kalau benar, belajar.
Kalau belum tahu, bilang belum tahu.

Sederhana.

Yang sulit adalah egonya.

Karena ternyata membunuh diskusi itu mudah.

Cukup merasa diserang ketika tidak ada yang menyerang. Atau menyerang orang ketika sebenarnya yang perlu dijawab adalah argumennya.

Setelah itu, selesai.

Dua orang bicara.
Dua-duanya merasa menang.
Tapi tidak ada satu pun yang pulang membawa pemahaman baru.

Ukuran Kedewasaan Bukan Menang Debat

Dan mungkin itu ukuran sederhana dari intellectual maturity: bukan seberapa cepat kita menemukan kesalahan orang lain, tetapi seberapa kuat kita menahan ego ketika ternyata orang lain mungkin benar.

Karena tujuan diskusi bukan membuat orang lain kalah.
Tujuannya membuat kita semua sedikit lebih dekat dengan kebenaran.

Kalau setelah berdiskusi kita tetap membawa ego yang sama, keyakinan yang sama, dan kebencian yang sama, mungkin yang bertambah bukan pengetahuan.

Cuma volume suara.

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.



Konten iklan ini dipilihkan oleh Google sesuai kebiasaan Anda akses informasi
0 Shares:
You May Also Like
Pikiran bawah sadar
Read More

Rahasia Pikiran Bawah Sadar Anda

Pikiran bawah sadar memegang peran penting bagi kehidupan Anda. Semua memori, nilai-nilai hidup Anda, keyakinan kebenaran Anda, kepribadian, program-program, tersimpan dengan baik di bawah sadar. Bahkan semua informasi yang masuk tanpa sepengetahuan pikiran sadar kita pun ia simpan
Read More