Saya tiba-tiba teringat ini, kemudian cepat-cepat menulisnya.
5-6 tahun lalu, saya belajar hal penting.
Kita Bukan Capek Karena Kerja
Kita itu jarang benar-benar capek karena bekerja. Tapi kita capek karena terus mengukur diri dengan penggaris milik orang lain.
Melihat pencapaian mereka. Kecepatan mereka. Angka-angka mereka.
Hidup mereka yang tampak keren di feed medsos kita.
Lalu, tanpa sadar kita maksa ikut di jalur “perlombaan lari” mereka.
Orang Berkembang Karena Fokus Memperbaiki Diri
Kita lihat beberapa contoh. Misalnya di karier. Itu sangat terlihat.
Ada orang yang darah tingginya naik setiap melihat temannya jabatannya naik.
Merasa tidak adil. Bahkan merasa dizalimi.
Padahal kalau jujur, cara bekerjanya mungkin masih sama seperti tiga tahun lalu. Tidak ada performa yang naik.
Tapi, ada juga yang diam-diam belajar.
Presentasinya hari ini lebih rapi. Bicaranya lebih runtut.
Keputusannya lebih matang.
Tidak terlihat menang cepat.
Tapi arah hidupnya jelas.
Pemenangnya Bukan yang Paling Agresif Mengalahkan Pesaing
Di bisnis, pelajarannya lebih jelas.
Banyak pengusaha kehabisan energi bukan karena melayani pelanggan, tapi karena tak mau kalah dengan pesaing.
Harga diturunin tanpa hitungan.
Fitur ditiru tanpa paham konteks.
Duit (dan emosi) dibakar setiap hari.
Lupa bahwa bisnis bukan sprint. Ini marathon panjang.
Yang bertahan bukan yang paling sibuk bersaing.
Tapi yang paling rajin membenahi diri.
Produk hari ini lebih bagus dari kemarin.
Tim hari ini lebih rapi dari kemarin.
Keputusan hari ini lebih waras dari kemarin.
Pelan. Tapi tumbuh.
Bahkan Bertetangga, Kita Berlomba
Bahkan di urusan bertetangga pun polanya sama.
Membandingkan rumah.
Membandingkan kendaraan.
Membandingkan liburan.
Akhirnya ramah di luar, tapi panas di dalam.
Padahal hidup jauh lebih ringan saat kita sibuk memperbaiki diri.
Hari ini aku lebih sabar dari kemarin. Lebih sopan. Lebih tahu diri.
Tidak terlihat sukses.
Tapi bisa tidur nyenyak.
Lomba yang Seharusnya Kita Ikuti
Hidup yang terus tumbuh, tidak harus berkompetisi dengan siapa pun.
Kamu hanya perlu bersaing dengan satu orang saja, ke dalam, yaitu dirimu sendiri yang kemarin.
Naik sedikit. 1% saja hari ini. Itu sudah kemajuan.
Tidak perlu di upload di medsos.
Tidak ada yang kagum.
Tapi dirimu tahu, ini nyata.
Saat Lomba Keluar, Hidup Jadi Melelahkan
Nah, saat kamu bersaing ke luar, hari-harimu habis untuk membandingkan.
“Dia sudah sejauh apa?”,
“Dia kok lebih cepat?”,
“Dia lebih kaya”,
“Dia sudah duluan”.
Lalu muncul rasa yang itu-itu lagi.
Capek. Iri. Kosong. Tidak pernah cukup.
Karena memang tidak akan pernah cukup. Selalu ada orang yang lebih.
Dan selama fokusmu ke luar, garis finis akan terus menjauh, seperti fatamorgana.
Saat Lomba Masuk ke Dalam, Sesuatu Berubah
Tapi ketika kamu memindahkan lomba itu ke dalam, sesuatu pelan-pelan berubah.
Pertanyaannya bukan lagi, “Dia sudah sampai mana?”, melainkan, “Aku hari ini naik setitik atau tidak?”
Tidak ramai. Tidak viral. Tak perlu dipamerkan.
Tapi terasa di dalam dada.
Lebih tenang. Lebih kokoh.
Perbandingan membuatmu gelisah. Perbaikan membuatmu bertumbuh.
Yang satu menguras tenaga. Yang satu membangun otot batin.
Pilihan yang Sebenarnya Sederhana
Jadi pilihannya sebenarnya sederhana.
Ingin terlihat menang, atau benar-benar berkembang?
Kalau kamu memilih yang kedua, berhentilah sibuk tidak mau kalah dari orang lain.
Itu kesibukan yang kelihatannya ambisius, tapi diam-diam menghancurkan.
Fokus ke dirimu. Lawan versi lamamu.
Di situlah kemajuan bekerja dalam diam.
Dan suatu hari, kamu sadar…kamu sudah jauh, tanpa pernah merasa sedang berlomba.
Terimakasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.



