Malam itu saya tidak sedang sengaja mencari pencerahan.
Hanya membuka YouTube. Di sela lelah sebagai entrepreneur yang kepalanya penuh keputusan. Rekrut siapa, produk ini dilanjut atau dihentikan, pasar mana yang sebenarnya kita kejar.
Lalu muncul video Peter Thiel ini. Salah satu sosok yang jadi inspirasi saya dalam berbisnis.
Saya klik. Menyimaknya hingga akhir. Menatap layar, lama.
Saya tiba-tiba seperti tersadar, banyak keputusan besar yang pernah saya ambil, ternyata lahir dari cara berpikir yang sama, melihat lebih luas, bukan lebih dalam.
World-class entrepreneurs don’t win by going deeper. They win by seeing wider.
Kalimat ini menarik.
Karena sejak awal karier, sejak masih jadi programmer, sejak hidup saya dipenuhi perl, syntax, dan bug, saya diajari satu hal: jadi spesialis.
Masuk lebih dalam.
Kuasai satu lubang.
Jangan lompat-lompat.
Dan ternyata, justru di situlah banyak orang mentok.
Dunia Menghargai Spesialis. Tapi Sejarah Dimenangkan oleh Integrator
Sekolah mengajari kita satu pola sukses.
Pilih satu bidang.
Dalami. Ambil S2. Ambil S3.
Jadi ahli.
Masuk akal.
Dunia akademik memang dibangun untuk itu.
Tapi dunia entrepreneur bekerja dengan logika yang berbeda.
Peter Thiel bilang entrepreneur kelas dunia bukan spesialis.
Mereka polymath.
Bukan karena mereka tahu segalanya. Tapi karena mereka mampu menghubungkan banyak hal.
Mereka melihat teknologi, lalu mengaitkannya dengan perilaku manusia, insentif ekonomi, budaya, sejarah, bahkan ideologi.
Baca juga: Bukan Tentang Branding, Tapi Tentang Menjadi Manusia
Spesialis itu seperti orang yang sangat paham satu pohon.
Integrator melihat seluruh hutan.
Dan tahu, pohon mana yang akan tumbang lebih dulu.
Di situlah leverage hidup.
Produk Hebat Tidak Lahir dari Fitur. Tapi dari Pemahaman Manusia
Kami pernah membangun produk yang secara teknis “bagus”.
Arsitektur rapi. Code bersih. Fitur lengkap gitu.
Tapi pasar sepi. Gak ada resonansi.
Waktu itu saya terlalu fokus pada apa yang bisa kami buat, bukan apa yang sedang terjadi pada manusia yang akan memakainya.
Peter Thiel menyinggung itu dengan tajam.
Founder hebat bukan hanya paham produk.
Mereka paham psikologi dan momentum budaya.
Mereka tahu apa yang sedang ditakuti orang, apa yang sedang dicari, apa yang belum bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Makanya produk mereka terasa “tak terelakkan”.
Bukan karena fiturnya canggih.
Tapi karena selaras dengan arah zaman.
Seperti Gojek di awal.
Seperti iPhone di masanya.
Seperti SaaS yang tepat muncul saat organisasi mulai lelah dengan spreadsheet.
Itu bukan kebetulan.
Itu hasil melihat lebih lebar.
Mereka Berpikir Lintas Waktu, Bukan Sekadar Lintas Fungsi
Founder “biasa”, bisa terlihat sangat sibuk hari ini.
Tapi founder kelas dunia memikirkan lintasan.
Peter Thiel menyebut satu pola penting, mereka bisa zoom in dan zoom out dengan lincah.
Zoom in deadline, eksekusi, detail yang menyakitkan.
Zoom out sejarah teknologi, arah industri, apa yang akan relevan lima atau sepuluh tahun lagi.
Saya merasakannya sendiri.
Beberapa keputusan terbaik yang pernah saya ambil tidak terlihat optimal di hari itu.
Tapi masuk akal jika dilihat dari kurva waktu.
Context melahirkan judgment.
Judgment yang tepat akan berlipat hasilnya.
Ruang Diskusi yang Sempit Melahirkan Keputusan Biasa
Peter Thiel bercerita tentang ruang-ruang diskusi terbaik.
Bukan yang penuh KPI. Bukan yang isinya dashboard dan grafik.
Tapi ruang di mana strategi bertabrakan dengan filosofi, manajemen bertemu pertanyaan makna, angka berdebat dengan value.
Saya langsung teringat beberapa meeting internal yang paling “hidup”.
Biasanya bukan saat membahas target.
Tapi saat bertanya, “Kalau kita berhasil, dunia akan jadi seperti apa ya?”
Diskusi seperti ini “terasa tidak berguna” memang.
Tidak efisien.
Sulit diukur.
Tapi justru dari sanalah keputusan non-obvious lahir.
Masalah Kita Terlalu Mengidolakan Kedalaman, Meremehkan Keluasan
Peter Thiel menutup dengan kritik yang sangat relevan.
Model akademik memberi penghargaan pada kedalaman.
Model entrepreneur menghargai pada range, lebar, luas.
Kedalaman terasa aman.
Range terasa berantakan.
Padahal keunggulan lahir bukan karena tahu semuanya.
Tapi karena tahu bagaimana semuanya saling terhubung.
Kita sering keliru mengira mastery sama dengan perspektif, mengira ahli berarti visioner, mengira fokus berarti sempit.
Padahal dunia nyata jarang rapi.
Masalah besar selalu lintas disiplin.
Catatan Pribadi
Saya merenung, beberapa lompatan terbesar dalam bisnis saya tidak datang dari belajar lebih dalam satu hal. Tapi dari keberanian menghubungkan teknologi dengan perilaku, sistem dengan insentif, mimpi dengan realita lapangan.
Dari membaca di luar bidang.
Dari diskusi yang melebar.
Dari rasa ingin tahu yang tidak “efisien”.
Peter Thiel hanya mengingatkan hal yang sering kita lupakan:
Dunia tidak dimenangkan oleh orang yang menggali lubang terdalam.
Tapi oleh mereka yang tahu di mana harus menggali.
Dan itu butuh pandangan yang lebar.
Jadi Pertanyaannya Bukan Lagi “Seberapa Ahli Anda?”
Tapi, apakah kita sedang melatih diri menjadi pakar, atau integrator?
Apakah kita keliru menyamakan penguasaan dengan perspektif?
Apakah kita terlalu sibuk menggali, sampai lupa melihat sekitar?
Peter Thiel itu tidak memberi jawaban.
Ia justru meninggalkan “kegelisahan yang sehat”.
Dan mungkin itu tanda tulisan, atau sebuah video yang bagus.
Ia tidak membuat kita merasa pintar.
Ia membuat kita berpikir ulang.
Lebih lebar.
Terimakasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.



