Awal bulan ini, linimasa saya ramai oleh satu topik tentang evolusi orang pintar. Sebuah tulisan dari seorang Wakil Rektor ITS, yang menceritakan pengalamannya menyimak presentasi Lyqa Maravilla di Manila, dalam forum ADB, yang judulnya The Future of Education: Learning Beyond the Classroom.
Saya membacanya pelan-pelan. Menarik.
Lalu kemarin, kami mendapat kehormatan untuk mengisi materi di sebuah dauroh di Pondok Pesantren Al Furqan, Gresik, tempat dulu para da’i yang kita kenal belajar, seperti ustadz Abdullah Roy, ustadz Firanda, dan yang lain.

Saya ceritakan ulang konteks ini kepada para asatidzah. Dengan beberapa penyesuaian. Dengan satu niat sederhana, yaitu membantu kita semua memahami, bahwa dakwah, pendidikan, dan cara belajar, tidak pernah hidup di ruang hampa. Zaman berubah. Cepat. Dan kalau kita tidak sadar, kita bukan ketinggalan. Kita ditinggal.
Orang Pintar Itu Selalu Kontekstual
Pada tulisan yang saya baca, Lyqa memulai dari cara manusia mendapatkan ilmu.
Di Era Print, ilmu itu on hand.
Fisik. Berat.
Buku tebal. Koran. Diktat.
Maka, orang pintar di era ini adalah si penghafal.
Siapa yang punya akses buku, punya power.
Siapa yang kuat memorinya, dia menang.
Otak ditempa untuk fokus.
Musuhnya cuma satu, rasa bosan.
Tapi justru dari bosan itulah daya tahan mental lahir.
Lalu kita masuk Era Search.
Ilmu pindah dari rak buku ke field pencarian.
Orang pintar berevolusi menjadi si pencari.
Bukan siapa yang paling hafal, tapi siapa yang paling jago bertanya ke Yahoo, atau Google.
Di zaman ini, tekun membaca mulai perlahan ditinggalkan.
Yang dibutuhkan justru skeptisisme.
Membandingkan. Memilah.
Mengendus bau hoaks.
Karena kalau tidak, kita keracunan informasi.
Overdosis data.
Tahu banyak, tapi bingung sendiri.
Kemudian datang Era Algorithm.
Ini zaman dimana kita tidak lagi mencari.
Kita dicari.
Timeline sosmed kita diatur sesuai yang kita minati.
Halaman depan Netflik kamu dipenuhi film-film yang kamu sukai.
Emosi kita dipancing.
Ego kita disuapi.
Di zaman ini, orang pintar sering disalahpahami sebagai si viral.
Padahal yang langka justru si waras.
Yang mampu keluar dari echo chamber-nya sendiri.
Lyqa menyebutnya Reach to Teach.
Cari yang tidak kita sukai. Lawan arus.
Lalu ajarkan kembali.
Karena pemahaman yang dalam, baru lahir saat kita mencoba menjelaskan.
Generative AI Mengubah Arah Meja Belajar
Dunia tidak berhenti di algoritma.
Ia ngebut. Gas pol.
Masuklah kita ke Era Generative AI.
Ini era ketika mesin tidak lagi memberi link.
Ia langsung memberi jawaban.
Ringkasan.
Sintesis.
Argumen.
Orang pintar bukan lagi yang banyak tahu.
Tapi yang pandai bertanya.
Prompt yang tajam lebih berharga daripada hafalan satu rak perpustakaan.
Cara belajarnya bukan lagi satu arah.
Tapi dialog iteratif.
AI jadi sparring partner.
Kita dipukul. Kita membalas.
Kita dikritik. Kita berpikir ulang.
Namun di balik semua itu, ada satu paradoks besar.
Semakin pintar mesin, semakin malas otak manusia.
Popcorn brain.
Brain rot.
Fokus 15 detik, lalu lompat.
Dan di sinilah ironi muncul, di masa paling futuristik, justru keterampilan paling kuno kembali mahal.
Deep Reading.
Bukan untuk tahu jawabannya.
Tapi untuk membangun cara berpikir.
AI bisa memberi hasil.
Tapi tidak bisa menanam struktur berpikir di kepala kita.
Tanpa endapan ilmu, prompt kita dangkal.
Tanpa kedalaman, intuisi mati.
Post-Gen AI Tidak Berhenti di Agentic AI
Banyak orang mengira, puncaknya adalah Agentic AI.
AI yang bisa bekerja sendiri.
Mengatur. Menjalankan. Mengeksekusi.
Kita cukup bilang, “Urus semuanya.”
Dan AI melakukannya.
Tapi ada satu lapisan lagi yang jarang dibahas.
Lapisan yang tidak lahir dari bahasa.
Melainkan dari tubuh.
Spatial Intelligence.
Saya pernah menulisnya beberapa waktu sebelumnya.
Anda bisa membacanya: Inilah Mengapa Spatial Intelligence Akan Menjadi Revolusi AI Berikutnya
Coba perhatikan betapa absurdnya ini: AI bisa menulis esai filsafat. Tapi bingung saat disuruh, “Geser kursi itu sedikit ke kiri.”
Itu karena manusia berpikir dengan ruang. Bukan hanya dengan kata.
Kita tahu mana “itu”.
Kita tahu arti “sedikit”.
Kita tahu kapan berhenti sebelum menabrak meja.
Tanpa koordinat.
Tanpa teori.
Itu bukan kecerdasan bahasa. Itu kecerdasan ruang.
Sesuatu yang manusia pelajari sejak bayi.
Sebelum sekolah.
Sebelum kurikulum.
Sebelum ujian.
AI sekarang lahir dari teks.
Manusia lahir dari pengalaman tubuh.
Dan kalau AI ingin benar-benar hidup di dunia nyata, bukan sekadar di layar, maka ia harus belajar kembali dari fitrah manusia.
Trial and error.
Ruang.
Fisika.
Konsekuensi.
Cara Belajar Manusia Akan Berubah. Lagi.
Di era spatial intelligence, cara belajar tidak lagi melulu duduk, membaca, menonton.
Belajar akan kembali ke mengalami, menggerakkan tubuh, berinteraksi dengan dunia nyata.
Simulasi.
Eksperimen.
Ruang nyata dan ruang digital yang menyatu.
Dan ironisnya, ini bukan kemajuan.
Ini kepulangan.
Kita kembali ke cara manusia belajar sejak awal, yaitu melalui pengalaman, bukan ceramah. Melalui teladan, bukan slide.
Pendidikan Akan Kembali ke Fitrah
Saya sampaikan ini kepada para asatidzah kemarin.
Bahwa dakwah tidak boleh gagap teknologi.
Tapi juga tidak boleh kehilangan jiwa.
Di masa depan, intelligence itu murah.
Mesin punya stok tak terbatas.
Yang mahal justru kesadaran, niat, hikmah.
Mesin bisa menghitung zakat.
Mesin bisa mendistribusikan bantuan.
Mesin bisa mengoptimalkan sistem.
Tapi mesin tidak bisa merasakan lapar.
Tidak bisa menahan air mata.
Tidak bisa berniat lillahi ta’ala.
Guru masa depan bukan pengajar jawaban.
Tapi penjaga nilai.
Sekolah bukan tempat mencetak mesin pintar.
Tapi manusia utuh.
Semakin canggih teknologinya, semakin keras tuntutan untuk menjadi manusia.
Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesarnya.
Bahwa di ujung semua evolusi ini, pembelajaran tidak pergi jauh ke depan.
Ia justru pulang.
Ke fitrah.
Terimakasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.



