Semua orang ingin sukses, siapa yang tak mau? Kalau bisa cepat, kenapa harus lama?
Pemain bola bermimpi angkat trofi secepat kilat, kalau perlu besok pagi sudah diarak keliling kota.
Startup-founder membayangkan jadi unicorn dalam waktu tiga tahun, seolah dunia bisnis itu semudah main aplikasi di ponsel.
Pemerintah pun tak mau kalah, menjanjikan pertumbuhan ekonomi melesat dalam 100 hari kerja, seakan angka-angka di laporan bisa disulap seperti trik pesulap di pinggir jalan.
Pola pikir instan ini memang menggoda, seperti jalan tol yang terlihat mulus, lebar, dan bebas hambatan—siapa yang tak mau melaju kencang di sana? Tapi, kalau fondasinya rapuh, kalau betonnya dicampur asal-asalan, yang ada bukan kecepatan menuju tujuan, tapi nyungsep di tengah jalan.
Mental instan adalah jebakan yang sering tak kita sadari, bagaikan pasir hisap yang perlahan menarik kita ke bawah tanpa terasa.
Dari lapangan sepakbola hingga ruang rapat direksi, dari perusahaan rintisan yang baru belajar jalan, hingga sebuah negara dengan segala kompleksitasnya.
Banyak yang jatuh tersungkur karena terlalu tergesa-gesa.
Hasilnya? Tim yang diimpikan jadi juara malah pulang dengan kepala tertunduk, startup yang digadang-gadang jadi bintang baru akhirnya bangkrut sebelum waktunya, dan negara yang mengejar pertumbuhan kilat justru terperosok dalam krisis—utang menumpuk, rakyat menderita, dan kepercayaan pun lenyap seperti asap.
Jalan pintas itu memang menggiurkan, tapi sering kali hanya membawa kita ke ujung yang salah.
Trofi Sepakbola Bukan Sulap dari Topi
Saya ingat Timnas Inggris era “Golden Generation”—tahun 2000-an itu. Ada David Beckham yang keren, Steven Gerrard yang garang, Frank Lampard yang cerdas.
Media Inggris heboh, “Ini saatnya trofi!”. Tapi apa hasilnya? Nol besar. Mereka tersingkir di perempat final Piala Dunia 2002 dan 2006, bahkan tak lolos fase grup di Euro 2008.

Buru-buru pengen menang tanpa kerja sama tim itu seperti masak nasi tanpa air, gagal total. Pelatih macam Sven-Göran Eriksson tidak bisa menyatukan ego para bintang. Tekanan jadi juara instan malah bikin mereka limbung.
Sekarang coba kita tengok Jepang. Mereka punya visi gila: “100 Year Vision” sejak 1990-an, target juara dunia tahun 2092. Kedengarannya seperti mimpi yang terlalu panjang, tapi langkah mereka nyata.
Di akademi J-League, anak-anak kecil dilatih disiplin keras, seperti samurai cilik. Pemain seperti Mitoma dan Endo dikirim ke Eropa, diasah di liga keras. Hasilnya? Jepang kini langganan masuk putaran Piala Dunia, bahkan bikin Jerman dan Spanyol pulang dengan wajah muram di Qatar 2022.
Proses panjang, bukan sulap. Kalau kita buru-buru, ya seperti Inggris: harapan tinggi, hasil kempes.
Dari Unicorn Palsu hingga Raksasa Sejati
Dari lapangan hijau, kita pindah ke dunia bisnis.
Saya teringat Theranos, startup Amerika yang bikin heboh. Tahun 2014, valuasinya mencapai 9 miliar dolar AS. Pendirinya, Elizabeth Holmes, disebut “Steve Jobs wanita”.
Saya dulu baca profilnya di majalah, penuh sanjungan. Theranos bilang mereka punya teknologi tes darah canggih—cukup setetes darah, semua penyakit ketahuan. Tapi ternyata bohong.
Mereka buru-buru jadi “unicorn”, padahal alatnya tak siap. Data dipalsukan, investor ditipu. Tahun 2018, Theranos bangkrut, dan Holmes masuk penjara—hukuman 11 tahun, diputuskan 2022. Saya pikir, ini akibatnya kalau kejar sukses instan tanpa fondasi.
Baca juga: Fake It Until You Make It?

Bandingkan dengan Amazon.
Jeff Bezos mulai dari garasi, jualan buku online tahun 1994. Bertahun-tahun Amazon rugi, tahun 2000 saja minus 1,4 miliar dolar AS. Tapi Bezos tak panik. Ia bilang, “Kita main panjang.” Ia bangun logistik, teknologi, dan kepercayaan pelanggan. Di gudang mereka—robot dan manusia kerja bareng, seperti tarian rapi.
Hasilnya? Tahun 2023, pendapatan Amazon 574,8 miliar dolar AS, dan AWS kuasai 31% pasar cloud dunia.
Sabar itu emas, bukan gula instan.
Negara yang Ingin Cepat Kaya
Kalau di sepakbola dan bisnis mental instan bikin gagal, di tata kelola negara akibatnya bisa lebih parah.
Lihat Venezuela. Dulu mereka kaya raya dari minyak—tahun 1970-an, PDB per kapitanya setara negara maju. Orang-orang di Caracas hidup seperti di Eropa. Tapi pemerintah buru-buru menikmati duit minyak tanpa pikir masa depan. Tak ada diversifikasi ekonomi.
Ketika harga minyak jatuh 2014, semua ambruk. Inflasi jadi gila—1.000.000% tahun 2018, kata Bank Sentral mereka. Saya baca laporan UNHCR, lebih dari 7 juta warga kabur sampai 2023. Dari surga jadi neraka, gara-gara mental instan.
Sekarang kita lihat Norwegia.
Mereka juga kaya minyak, tapi pinter. Mereka punya dana sovereign wealth, Government Pension Fund Global. Dana itu kini bernilai 1,4 triliun dolar AS, kata laporan 2023. Minyak disimpan buat masa depan, bukan buat foya-foya. Mereka juga diversifikasi ke teknologi dan energi hijau.
Hasilnya? Indeks Pembangunan Manusia Norwegia selalu top—0,961 tahun 2022.
Bandingkan sama Venezuela, jomplang.
Ambisi Besar Indonesia
Kita pulang ke Indonesia. Negeri kita punya mimpi besar: Timnas masuk Piala Dunia, ekonomi jadi raksasa, rakyat sejahtera. Tapi mental instan sering jadi batu sandungan.
Saya mau cerita dua hal: sepakbola dan pemerintahan.
Naturalisasi Bisa Jadi Candu Timnas
Saya suka nonton Timnas main belakangan ini. Ada Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, Jay Idzes—pemain keturunan yang bikin kita naik level. Di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, kita lolos ke putaran ketiga—sesuatu yang terakhir terjadi 1986, zaman saya masih SD.
Salut sama PSSI, tapi juga khawatir. Naturalisasi ini bisa jadi obat instan kalau tak dibarengi pembinaan usia dini.
Pemain kita terdaftar FIFA di bawah 100.000 orang. Sementara Jepang punya 600.000 lebih, kata data FIFA 2022. Saya mikir, kalau kita cuma mengandalkan naturalisasi tanpa bangun akademi dan liga domestik, ini seperti minum obat tanpa menyembuhkan akar penyakit.
Saya ingat Jepang lagi. Mereka tak cuma kirim pemain ke Eropa, tapi juga punya J-League yang solid, pelatih usia dini yang terlatih. Kita? Liga 1 masih semrawut, akademi pemain muda minim. Saya tak bilang naturalisasi salah—tapi kalau cuma itu senjatanya, ya seperti masak tanpa garam: hambar di akhir.
Kolusi, Nepotisme, dan Korupsi di Pemerintahan
Di pemerintahan, mental instan lebih ngeri lagi.
Korupsi masih jadi penyakit kronis. Transparency International kasih skor Indeks Persepsi Korupsi kita 34 dari 100 tahun 2023—ranking 115 dari 180 negara. Jauh di bawah Singapura yang 83, atau Malaysia yang 50.
Ingat kasus e-KTP—kerugian negara Rp2,3 triliun, tahun 2017? Atau Bansos Covid-19 yang dikorupsi Rp491 miliar, padahal rakyat lagi susah. Ini soal mental: kejar duit buat diri sendiri, rakyat dilupakan.
Lalu ada kolusi dan nepotisme. Semua bisa baca berita, banyak jabatan di pemerintahan diisi kerabat atau kroni, bukan orang kompeten.
Saya teringat PM Singapura, Lee Kuan Yew. Dia bilang, “Pilih orang terbaik, bukan teman terbaik.”
Singapura tegas soal meritokrasi—gaji pejabat tinggi, tapi hukuman korupsi berat.
Makanya PDB per kapita mereka 82.794 dolar AS tahun 2023, kata IMF. Kita? Masih 4.919 dolar AS.
Saya bukan bilang kita tak bisa, tapi mental instan ini—korupsi, kolusi, nepotisme—harus dibereskan dulu.
Sabar dan Konsisten adalah Jalan Keluar
Saya termenung. Mental instan itu seperti beli buah di pasar: keliatan merah, tapi dalamnya busuk.
Di sepakbola, bisnis, atau negara, jalan pintas tak pernah abadi.
Timnas kita bisa ke Piala Dunia, tapi butuh akademi, pelatih bagus, liga yang rapi—bukan cuma naturalisasi.
Pemerintahan kita bisa bikin rakyat sejahtera, tapi harus bersihkan korupsi, angkat orang kompeten, dan punya visi jauh ke depan.
Tengok Jepang, Amazon, Norwegia.
Jepang butuh puluhan tahun jadi kekuatan sepakbola. Amazon rugi satu dekade sebelum jadi raksasa. Norwegia simpan duit minyak buat anak cucu.
Saya pikir, sabar itu seperti menanam pohon jati: butuh waktu bertahun-tahun, penuh perjuangan, tapi hasilnya kokoh dan bernilai tinggi.
Takeaway
Mental instan itu candu yang mematikan—manis di depan, seperti gula-gula yang bikin orang lupa diri, tapi pahit di belakang, meninggalkan luka yang dalam dan penyesalan.
Mimpi besar Indonesia seperti Timnas masuk Piala Dunia atau ekonomi jadi nomor 4 dunia di tahun 2045, itu bukan khayalan yang ngawang-ngawang, bukan pula angan-angan anak kecil yang main layang-layang di sawah. Itu semua bisa jadi nyata, tapi bukan dengan cara buru-buru, bukan dengan mental cepat kaya atau cepat terkenal.
Kesuksesan yang bertahan lama, yang membuat orang takjub dan hormat, itu lahir dari sistem yang kokoh, kesabaran yang teruji, dan kerja keras yang tak kenal lelah.
Mental instan? Hanya menciptakan harapan kosong, seperti balon yang ditiup besar-besar tapi meletus sebelum terbang tinggi.
Timnas kita harus belajar dari sini, bukan sekadar mengandalkan pemain impor atau keajaiban semalam, tapi membangun fondasi dari bawah—akademi, pelatih, dan semangat juang yang tak pernah padam.
Begitu juga kita, dalam bisnis, dalam hidup sehari-hari, bahkan dalam cara kita bermimpi.
Tidak ada jalan pintas menuju kejayaan.
Yang ada hanyalah jalan panjang, berliku, tapi penuh makna saat kita sampai di ujungnya, dengan keringat dan senyum bangga di wajah.
Terimakasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.