Mengapa Cara Belajar Kita Justru Harus Kembali ke Fitrah?
Read More

Semakin Pintar AI, Mengapa Cara Belajar Kita Justru Harus Kembali ke Fitrah?

Orang pintar tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia selalu anak zamannya. Dari era hafalan, pencarian Google, algoritma media sosial, hingga Generative AI, cara manusia belajar terus berevolusi. Namun di balik kecanggihan teknologi, muncul paradoks: otak manusia justru melemah. Di sebuah dauroh di Pondok Pesantren Al Furqan, Gresik, saya mencoba mengajak para asatidzah melihat perubahan ini dengan jernih. Bahwa di masa depan, dakwah dan pendidikan tidak cukup mengikuti teknologi, tapi harus menuntun manusia kembali ke fitrahnya: belajar lewat pengalaman, kesadaran, dan hikmah.
Read More
Mayoritas Hampir Selalu Salah
Read More

Kenapa 97% Orang Salah Dan Hanya 3% yang Berani Berpikir Berbeda

Mayoritas sering kali salah, bukan karena kurang pintar, tapi karena terlalu patuh pada norma yang sudah tidak relevan. Dari kisah Einstein tentang “jawaban yang sudah berubah” saat saya menonton Paul Rulkens di TEDxMaastricht, kita belajar bahwa manusia cenderung hidup autopilot, mengikuti standar lama, dan mengulang pola yang sama. Dunia profesional penuh aturan tak tertulis: rapat wajib, produk harus sempurna, kantor harus fisik. Padahal terobosan besar selalu lahir dari mereka yang berani melawan arus dan menabrak norma. Pilihan untuk menjadi 3% itu selalu ada di depan kita.
Read More
Spatial Intelligence
Read More

Inilah Mengapa Spatial Intelligence Akan Menjadi Revolusi AI Berikutnya

AI sudah memenangkan perang kata, tetapi belum memahami dunia nyata. Manusia sejak bayi belajar ruang melalui tubuh: melompat, meraba, gagal, lalu memahami fisika tanpa rumus. Sopir truk, tukang bangunan, anak yang bermain Lego, semua menunjukkan kecerdasan ruang yang tidak pernah diajarkan kata-kata. Fei-Fei Li menyebutnya spatial intelligence. Dan inilah revolusi AI berikutnya: saat mesin bukan hanya berbicara, tetapi benar-benar hidup dalam dunia fisik seperti kita.
Read More
Startup Founder
Read More

Kalau Kamu Masih Jadi Founder Startup Setelah Tahun 2025 Berlalu, Baca Ini Sebelum Dunia Menggulungmu

Dunia startup berubah cepat, tapi lima aturan ini tetap akan ada meski hype datang dan pergi. Dari memahami bahwa investor bukan tukang sulap, bahwa pendanaan pertama hanyalah pemanasan, bahwa kerja cerdas saja tidak cukup, bahwa pasar tidak memberi “pity profits”, hingga mentalitas “Sekarang apa?” yang memisahkan founder yang bertahan dari yang tumbang. Termasuk satu hukum paling sederhana namun paling brutal: Hukum Gravitasi Startup: uang masuk, uang keluar, dan value di tengahnya.
Read More
angan Pernah Berdebat dengan Orang Bodoh
Read More

Pelajaran dari Imam Syafi’i: Jangan Pernah Berdebat dengan Orang Bodoh

Berhenti berdebat dengan orang bodoh. Bukan karena kalah, tapi karena tahu tak ada akhir dari kebodohan. Seperti pesan Imam Syafi’i, diam adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan. Orang bodoh tak ingin memahami, mereka hanya ingin menang. Meladeni mereka bukan hanya membuang waktu, tapi juga mengeraskan hati. Kadang, cara paling cerdas menghadapi kebodohan adalah diam, berjalan tenang, dan membiarkan mereka kehabisan suara sendiri.
Read More
Business Plan
Read More

Bagaimana Menjalankan Business Plan Buatan AI agar Benar-Benar Terjadi?

Di era AI, rancangan bisnis bisa dibuat dalam hitungan menit, setara McKinsey. Tapi satu hal tak berubah: eksekusi tetap penentu hasil. AI bisa membuat strategi sempurna, namun tanpa langkah kecil yang nyata, semua hanya jadi mimpi digital. Artikel ini membahas bagaimana AI menjadi penggerak bisnis baru, tiga level penerapannya (Automation, Augmentation, Differentiation), serta enam cara eksekusi yang doable dan jarang terpikirkan siapa pun.
Read More