Feynman Technique adalah
Read More

Di Era AI, Yang Mati Bukan Membaca. Tapi Kemampuan Kita untuk Berpikir Dalam

Kita tidak benar-benar berhenti membaca. Kita membaca WhatsApp, berita, email, newsletter, social media, Kindle, bahkan subtitle. Tetapi ada yang berubah: kemampuan kita untuk tinggal cukup lama bersama sebuah gagasan. Di era AI, masalahnya bukan kekurangan informasi. Kita justru kelebihan informasi. Yang semakin langka adalah attention. Karena itu, yang perlu kita khawatirkan bukan kematian membaca, tetapi kematian deep reading—kemampuan untuk fokus, mengikuti argumentasi secara utuh, dan membiarkan sebuah gagasan mengubah cara kita berpikir.
Read More
Cara Memulai Penerapan Kecerdasan Buatan (AI) Di Perusahaan Anda
Read More

AI Tahu Semakin Banyak. Kita Harus Belajar Berpikir Semakin Baik

AI bisa menghasilkan jawaban semakin cepat, tetapi pengetahuan teknis juga semakin cepat usang. Dalam The Art of Doing Science and Engineering, Richard Hamming mengajarkan sesuatu yang justru semakin relevan di era AI: belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta, tetapi membangun pola berpikir. Dari memilih masalah yang penting, memindahkan skill antar bidang, hingga kemampuan menilai jawaban AI, semuanya bermuara pada satu hal: kemampuan berpikir. Karena ketika teknologi terus berubah, fondasi berpikir yang kuat membuat kita tidak perlu selalu memulai dari nol.
Read More
Diskusi yang mati
Read More

Ketika Ego Masuk, Diskusi Mati

Dua orang bisa berbeda pendapat karena berbeda data. Tetapi diskusi benar-benar mati ketika ego merasa terancam. Ada yang merasa diserang padahal tidak ada yang menyerang. Ada yang menyerang orang lain karena tidak mampu menjawab argumennya. Di baliknya ada personalization, emotional reasoning, ad hominem, motivated reasoning, dan social identity theory. Memahami cara kerja pikiran ini penting agar kita tidak sekadar ingin menang dalam diskusi, tetapi mampu menerima kemungkinan bahwa orang lain mungkin benar.
Read More
Coding 2026
Read More

AI Membuat Kita Bisa Coding Lebih Cepat. Tapi Apakah Perusahaan Kita Bisa Belajar Lebih Cepat?

AI membuat proses coding semakin cepat. Tetapi apakah perusahaan juga menjadi lebih cepat belajar? Buku Accelerate karya Nicole Forsgren, Jez Humble, dan Gene Kim menunjukkan bahwa kecepatan dan kualitas bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Dengan DORA Metrics—Deployment Frequency, Lead Time for Changes, Mean Time to Recovery (MTTR), dan Change Failure Rate—kita bisa melihat bagaimana tim teknologi bergerak, belajar, dan pulih dari kegagalan. Di era AI, bottleneck bahkan mulai bergeser: dari menulis kode menuju validasi, evaluasi, keamanan, observability, dan kualitas keputusan.
Read More
Membaca itu seperti makan
Read More

AI Berubah Setiap 6 Bulan. Cara Berpikir Tidak

AI berubah terlalu cepat. Buku, framework, model, bahkan prompt engineering yang hari ini dianggap penting bisa terasa usang beberapa bulan kemudian. Lalu, apa yang seharusnya kita pelajari agar tidak terus mengejar teknologi? Menariknya, jawabannya justru bukan buku tentang AI. Ada buku tentang riset pelanggan, pengambilan keputusan, budaya open source, engineering, metodologi sains, hingga ketidakpastian yang justru mengajarkan meta-skills yang tetap relevan ketika AI terus berubah. Karena AI hanyalah alat. Cara berpikir adalah aset. Dan aset selalu lebih berharga daripada alat.
Read More
Feynman Technique adalah
Read More

Semakin Saya Belajar, Semakin Saya Belum Paham (Pelajaran Berpikir dari Richard Feynman)

Semakin banyak saya belajar, semakin saya menyadari bahwa mengetahui tidak sama dengan memahami. Richard Feynman mengajarkan sebuah kebiasaan sederhana: jika kita belum bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sederhana, berarti kita belum benar-benar memahaminya. Melalui pengalaman sebagai founder, programmer, dan pembelajar AI, saya menemukan bahwa musuh terbesar dalam belajar bukanlah ketidaktahuan, melainkan ilusi bahwa kita sudah mengerti. Artikel ini membahas Feynman Technique, first principles, dan cara membangun pemahaman yang sesungguhnya.
Read More