Feynman Technique adalah
Read More

Semakin Saya Belajar, Semakin Saya Belum Paham (Pelajaran Berpikir dari Richard Feynman)

Semakin banyak saya belajar, semakin saya menyadari bahwa mengetahui tidak sama dengan memahami. Richard Feynman mengajarkan sebuah kebiasaan sederhana: jika kita belum bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sederhana, berarti kita belum benar-benar memahaminya. Melalui pengalaman sebagai founder, programmer, dan pembelajar AI, saya menemukan bahwa musuh terbesar dalam belajar bukanlah ketidaktahuan, melainkan ilusi bahwa kita sudah mengerti. Artikel ini membahas Feynman Technique, first principles, dan cara membangun pemahaman yang sesungguhnya.
Read More
Cara Memimpin
Read More

Kesalahan Terbesar Pemimpin Bukan Soal Strategi. Tetapi Cara Memimpin

Selama bertahun-tahun saya mengira menjadi pemimpin berarti harus selalu paling intens, paling cepat, dan paling peduli. Saya pikir semakin besar sense of urgency yang saya tunjukkan, semakin besar pula kepedulian tim. Ternyata yang sering terjadi justru sebaliknya. Apa yang saya anggap sebagai kepedulian, diterima sebagai tekanan. Yang saya anggap sebagai standar tinggi, dirasakan sebagai ketegangan. Di sinilah saya belajar bahwa kepemimpinan bukan soal meredupkan intensitas, tetapi mengubahnya dari panas menjadi cahaya — dari tekanan menjadi kejelasan yang membuat orang lain ikut bertumbuh.
Read More
Fable 5 AI Orchestration
Read More

Fable 5 dan Lahirnya Era AI Orchestration

Selama ini kita sibuk memperdebatkan model AI mana yang paling pintar: GPT, Claude, Gemini, Grok, Fable, atau Opus. Padahal, perubahan terbesar bukan lagi soal siapa yang memimpin benchmark, melainkan bagaimana berbagai model AI mulai bekerja bersama dalam satu workflow. Melalui kisah kembalinya Fable 5, artikel ini mengajak kita melihat lahirnya era AI Orchestration — sebuah paradigma baru ketika keunggulan tidak lagi ditentukan oleh satu model terbaik, tetapi oleh kemampuan mengorkestrasi berbagai model AI agar menghasilkan produktivitas, kualitas, dan efisiensi yang jauh lebih tinggi.
Read More

Ketika Hidup Tidak Lagi Terbagi Menjadi “Kerja” dan “Liburan”

Banyak orang menjalani hidup dengan membagi waktu menjadi dua kubu: bekerja dan menikmati hidup. Senin hingga Jumat bertahan, akhir pekan menjadi pelarian. Padahal, hidup yang selaras bukan diukur dari seberapa sedikit kita bekerja, melainkan ketika pekerjaan itu sendiri menjadi bagian dari kehidupan yang bermakna. Saat pekerjaan sejalan dengan nilai, tujuan, dan kemampuan, batas antara kerja, belajar, bermain, dan berkarya mulai memudar. Di titik itulah produktivitas tidak lagi lahir dari paksaan, tetapi dari keselarasan. Mungkin itulah makna sebenarnya dari aligned life.
Read More

Angka di Rekening Membuat Gelisah?

Ada masa ketika saldo Rp100 ribu membuat kita gelisah. Lalu hidup berubah, saldo menjadi Rp1 juta, Rp10 juta, Rp100 juta, bahkan miliaran rupiah. Anehnya, rasa cemas sering kali tetap tinggal. Seolah ketenangan selalu berada satu angka di depan kita. Padahal yang membuat hati tenang bukan jumlah uang yang tersimpan, melainkan tempat kita menggantungkan rasa aman. Uang bisa datang dan pergi. Bisnis bisa naik dan turun. Namun bagi orang beriman, rezeki bukan berada di rekening, melainkan di tangan Allah. Ketika keyakinan itu hadir, ketenangan tidak lagi ditentukan oleh saldo.
Read More
AI Literacy Itu Bukan Soal Jago Prompting
Read More

AI Literacy Itu Bukan Soal Jago Prompting — Begini Bedanya

Saya mulai karier dari bahasa assembler, zaman ketika error nggak bisa disalahkan ke "library-nya bug". Saya harus turun sampai level mesin benar-benar berpikir. Setiap teknologi baru muncul, saya tanya: orang paham mesinnya, atau cuma hafal tombolnya? Untuk AI generatif, jawabannya kebanyakan yang kedua. Semua bilang "belajar AI", tapi cuma belajar merangkai prompt. Artikel ini bahas kenapa AI nggak "tahu" fakta, dia menavigasi probabilitas di ruang vektor. Kenapa halusinasi bukan error, tapi koordinat yang salah. Plus cara mengukur makna jawaban AI pakai cosine similarity, bukan menebak kata.
Read More