Pajak Termahal di Dunia yang Kita Bayar Sukarela
Read More

Pajak Termahal di Dunia yang Kita Bayar Sukarela

Ada pajak yang lebih mahal daripada PPh, PPN, atau bea masuk. Ironisnya, tidak ada negara yang memungutnya. Kita membayarnya dengan sukarela setiap hari. Namanya Lifestyle Tax, pajak gaya hidup yang diam-diam menggeser mimpi, standar hidup, dan bahkan identitas kita. Berawal dari keinginan untuk hidup lebih baik, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam perlombaan status yang tidak pernah mereka pilih. Tulisan ini mengajak kita mengaudit kembali kehidupan yang kita jalani: apakah yang kita kejar benar-benar mimpi kita, atau hanya suara lingkungan yang berbicara melalui diri kita?
Read More
Daftar Forbes 30 Under 30
Read More

Ketika Daftar Forbes 30 Under 30 Yang Dibanggakan Menjadi Daftar Tunggu Penjara

Setiap tahun, tiga puluh wajah muda tersenyum di halaman *Forbes*. Investor berebut kartu nama. LinkedIn penuh caption: "Inspirasi banget. Kita umur segini udah ngapain aja?”. Saya dulu ikut terhanyut. Sekarang saya baca daftar itu seperti membaca menu warung yang foto dan aslinya selalu beda: sudah tidak kaget lagi. Gibran Huzaifah. Adrian Gunadi. Charlie Javice. Sam Bankman-Fried. Nama-nama yang kemarin kita jadikan inspirasi, hari ini kita baca dalam konteks vonis, DPO, dan surat dakwaan. Ini bukan soal oknum. Ini pola. Dan pola tidak lahir dari nasib buruk — ia lahir dari sistem yang salah desain sejak fondasi.
Read More
AI scam
Read More

Sebentar Lagi Gmail, WhatsApp, dan Telepon Tidak Lagi Bisa Dipercaya

Kita sedang memasuki era ketika manusia palsu memenuhi internet. AI tidak lagi sekadar membantu menulis atau membuat gambar, tapi mulai bertindak seperti manusia: membalas email, menelepon, meniru suara, hingga menjalankan penipuan otomatis tanpa henti. Yang mengerikan bukan hanya teknologinya, tapi fakta bahwa otak manusia memang tidak dirancang untuk melawan manipulasi seperti ini. Di tengah banjir konten AI, bot, dan scam digital, satu hal mulai terasa mahal: keaslian manusia. Dunia berubah sangat cepat. Pertanyaannya bukan apakah AI berbahaya, tapi apakah kita cukup siap hidup di era baru ini.
Read More

Kamu Tidak Kekurangan Peluang. Kamu Hanya Tidak Mengenalinya

Seekor katak bisa mati kelaparan di depan makanannya sendiri. Bukan karena tidak ada makanan, tapi karena otaknya hanya mengenali sesuatu yang bergerak sebagai makanan. Lalat yang diam diabaikan, kardus yang dilempar justru dimakan. Terdengar konyol, sampai kita sadar, kita sering melakukan hal yang sama. Dalam bisnis, karier, bahkan relasi, kita hanya mengenali peluang dalam bentuk yang sudah kita kenal. Di luar itu, kita anggap tidak ada. Masalahnya bukan dunia yang sempit, tapi cara kita melihatnya.
Read More
AI hype
Read More

Inilah Mengapa AI Bukan Sekadar Hype Teknologi

AI bukan sekadar hype baru yang akan meletus lalu hilang. Ia mirip listrik: tidak selalu terlihat, tetapi diam-diam masuk ke cara kita bekerja, mencari info, menulis, menjual, dan mengambil keputusan. Setelah blockchain dan metaverse ramai dengan janji besar, AI justru menang karena sederhana: langsung berguna, langsung dipakai, dan langsung mengurangi antrean. Dari stasiun kereta sampai ruang kerja, teknologi yang bertahan bukan yang paling heboh, melainkan yang paling memudahkan hidup. Itulah sebabnya AI bukan tren sesaat, melainkan infrastruktur baru yang sedang membentuk kebiasaan sehari-hari.
Read More
Coding 2026
Read More

Coding 2026: Semua Orang Bisa Ngoding. Tapi Sedikit yang Benar-Benar Membangun

Semua orang sekarang bisa ngoding. Dengan AI, aplikasi bisa jadi dalam hitungan menit. Tapi di balik kemudahan itu, muncul masalah baru: banyak yang membangun tanpa benar-benar memahami apa yang mereka buat. Hasilnya? Produk yang terlihat canggih, tapi tidak menyelesaikan masalah nyata. Artikel ini membahas fenomena “industrialisasi mediokritas”, bagaimana AI mempercepat kesalahan berpikir, dan kenapa di era ini justru fondasi, pemahaman, dan kedalaman berpikir menjadi pembeda utama.
Read More